Pasang Surut Perusahan Kereta Api di Sumbar Tahun 1963-2010

Beberapa dekade terakhir, perkembangan perkeretaapian di Indonesia secara umum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kemajuan itu terlihat dari modernisasi peralatan, fasilitas stasiun, fasilitas lokomotif dan gerbong, penggunaan kereta api sebagai transportasi massal, sampai yang terbaru saat ini diperkenalkan penggunaan tiket elektronik dan pembangunan jalur kereta api ganda ( double track ) serta rencana pembangunan mono rel untuk mengatasi kemacetan di ibukota. Namun kemajuan tersebut hanya terlihat di Pulau Jawa sedangkan di daerah lain seperti Sumatera Barat (Sumbar), kemajuan yang serupa masih belum terlihat. Read More

Advertisements

Eksistensi Manusia

Siapa kamu? apa untungnya saya menghargai kamu? Bukankan aku lebih tua dari kamu? Bukankah aku lebih hebat dari kamu? Bukankah kamu pernah hutang budi dengan aku? kalimat ini bagian dari kehidupan sehari – hari kita sebagai manusia, kita mungkin pernah mendengar atau mungkin saja pernah terbesit dalam hati atau pernah terlontar. Sadar atau tidak ketika kita berfikir seperti itu kita telah merusak bagian terkecil dari hubungan horizontal sesama manusia yang berakibat fatal. Pikiran ini adalah penyakit hati yang sulit untuk disembuhkan.

Dalam hidup ini memang manusia perlu dihargai eksistensinya sebagai bagian dari kelompok, organisasi, maupun lingkungan tempat tinggal mereka. Mau tidak mau, suka tidak suka pengakuan seseorang dalam lingkungan perlu didapatkan bisa dengan berbagai cara antara lain penghargaan, mengaharagai seseorang merupakan bentuk lain dari pengakuan seseorang terhadap orang lain. Ketika pengakuan tidak didapatkan maka akan terjadi pemberontakan dan sikap egois yang membuat kita tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain. Pengakuan eksistensi sebagai manusia dalam lingkungan dapat hilang akibat tingkah laku manusia itu sendiri, makanya perlu saling menghargai. Menghargai orang lain yang sedang berbicara. Berbicara dengan tutur yang enak, jangan setiap kata – kata yang keluar dari mulut kita membuat orang lain sakit hati, jika hati telah tersakiti apaun yang orang lain lakukan akan terlihat buruk dimata orang yang disakiti akhirnya mengganggu hubungan sosial kita sebagai manusia. “JIKA KATA – KATA YANG ANDA KELUARKAN ITU ADALAH RACUN LEBIH BAIK ANDA TELAN TERLEBIH DAHULU SEHINGGA TIDAK MEMBUNUH ORANG DISEKITAR ANDA DAN TIDAK MENJADI BUMERANG TERHADAP ANDA”

Sejatinya ketika anda menghargai orang lain berarti anda menghargai diri anda sendiri, maka dari itu hargai orang lain tapi jangan terlihat kaku, apapun bentuk penghargaan merupakan pengakuan diri sebagai manusia.Gambar

Laporan Sejarah Pariwisata

 Studi Kasus ; Melacak Pariwisata Berbasis Sejarah Di Kota Sawalunto

Oleh

Aulia Rahman

0810712020

  1. A.    Awal Kemunculan kota Sawahlunto dari Kota Tambang Menjadi Kota Wiasata Tambang

Pada tahun 1891, Sungai Durian menjadi titik tolak dimulai pertambangan batu bara di Kota Sawalunto. Kemudian berkembang ke daerah Sawah Rasau, Waringin dan Lembah Soegar.

Batu bara merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak didapat diperbaharui sehingga pertambangan batu bara kota Sawahlunto habis karena ekspoitasi besar –besaran batu bara akan habis. Ada ahli Belanda mengatakan bahwa suatu saat Kota Sawalunto akan menjadi kota mati jika bergantung pada pertambangan batu bara. Ada tiga pilar penting yang menyangkut pertambangan di Sawalunto

  1. Kota Sawalunto
  2. Pelabuhan Teluk Bayur
  3. Pertambangan Batu Bara

Jika salah satu dari ini mati atau tidak berfungsi sebagai pendunkung ekonomi maka kejadinnya adalah matinya Kota Sawahlunto. Hal ini terbukti ketika pada awal 2000 – an. Kota Sawahlunto menjadi mati. Sehingga berfikir dan duduk bersama antara segala unsur yang ada mulai dari pemerintah, penghulu, cadiak pandai, cendiakiawan, dan orang tua – tua memikirkan Sawahlunto kedepan.

Pada tahun 2001 keluarlah sebuah Perda yang menjadikan Kota saawahlunto menjadi Kota wisata tambang. Secara hiralki Perda ini harus dijalankan oleh segala unsur yang ada di Kota Sawahlunto. Selain itu dukungan dari pemerintah sendiri sangat maksimal dalam menjadikan Kota Sawahlunto menjadi kota wisata tambang[1].

  1. B.     Kebijakan Untuk Kota Wisata Tambang

Kebijakan PERDA VISI KOTA  MENJADIKA KOTA WISATA TAMBANG yang mengatur :

  1. Revitalisme bangunan dan kota tua bekerjasama dengan Malaka
  2. Peranan Pemerintah dalam pendanaan untuk membangun Kota Sawahlunto
  3. Memfasilitasi sampai saat ini pemerintah menjadi aktor utama dalam pengelolaan Kota Sawahlunto sebagai Kota wisata.

Untuk menjadikan Kota Sawahlunto menjadi Kota Wisata. Pemerintah menjalin kerja sama dengan Balai Pengkajian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang. Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata Jakarta Dan Pelestarian Bangunan Kota Tua Malaka, Malaysia untuk mengembangkan kota Sawahlunto. Selain itu Kota Sawahlunto adalah salah satu Kota yang ada di Indonesia yang telah mempunyai undang – undang yang mengatur tentang peninggalan sejarah dan arkeologi.

  1. C.    Keunikan Kota Sawalunto

Kota sawalunto merupakan salah satu Kota desa dalam konsep sejarah perKotaan. Secara konsep Kota sawalunto tergolong desa yang penduduknya tidak mencukupi untuk dijadikan sebuah Kota tapi dari sisi lain Kota sawahluntu memiliki multi kultural etnis. Antara lain Minang, Batak, Jawa, Sunda, Bugis dan Ambon yang berasal dari para kuli kontrak didatangkan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Agama yang juga beragam Islam dan Kristen. Adabeberapa keunikan Kota Sawahlunto :

  1. Multi kultural etnis dan agama sehingga mereka sangat menghargai perbedaan
  2. Mempunyai bahasa kreol  atau bahasa tansi. Tansi disini bukanlah penjara akan tetapi tansi disini adalah blok – blok perumahan buruh kontrak, akan tetapi pada hakikatnya sama dengan penjara yang bergaul dengan orang – orang sekitar blok perumahan.
  3. Konsep tungga sakapal yaitu mereka yang merasakan hidup yang sama selama perjalanan dikapal sampai ke Kota Sawalunto. Mereka yang tungga sekapal sudah menjadi saudara walaupun tidak ada pertaloan darah, tidak boleh menikan sesama tingga sekapal.
  4. D.    Melayat ke Gudang Ransoem

Museum gudang ransoem dahulu merupakan dapar umum yang dibangun oleh Pemerintahan Belanda pada tahun 1918 untuk mensuplai makanan bagi para pekerja tambang baru bara dan pasien rumah sakit.

Sebuah perestasi dan kebanggan dimana memanfaatkan teknologi untuk memasak dalam skala banyak sejak awal abad ke – 20 bahkan pertama di Indonesia. Peralatan masak yang umurnya 100 tahun lebih. Hal ini terlihat bagaiman Belanda mengekploitasi tenaga anak – anak untuk memasak, proses pembagian makan antara buruk yang sering terjadi perkelahian yang perampasan antara pada pekerja dengan petugas dapur umum hal ini sering terjadi antara pekerja dengan suku bugis dan batak karena sama suku yang berwatak keras[2].

  1. E.     Kekejaman Belanda di Lubang Tambang Mbah Soero

Lubang tambang soegar mempekerjakan orang – orang hukuman yang dikenal dengan “ orang rantai. Disini bertugas seorang mandor yang bernama Soero, seorang pekerja keras, tegas, dan taat menjalankan agama sehingga ia disegani oleh para buruh dan orang sekitar tambang batu bara[3].

Dilubang ini banyak kejadian yang menyedihkan dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang – orang yang dikampung halaman mereka sangat gigih menentang belanda tetapi dihukum dan dipropagandakan oleh Belanda sebagai orang yang suka merampok, membunuh, menculik sehingga masyarakat takut kalau orang rantai ini keluar dari lubang. Rantai ini saling terikat satu sama lain. Berai bola rantai mulai dari 5 sampai dengan 10 kg per orang sehingga kecil kemungkinan untuk lari karena beban yang di bawa oleh orang rantai. Untuk mereka yang telah sakit atau memiliki penyakit mereka aka dibuang ke lubang tumbal bukan diobati[4].

Melihat tingginya nilai sejarah maka pada tahun 2007 lubang ini dibuka untuk wisata sejarah  untuk melihat kekejaman belanda terhadap orang rantai yang akhirnya berjasa untuk pembangunan kota Sawahlunto sampai sekarang, semoga arwah para pendiri bangsa, orang yang berjasa, orang yang berjuang untuk Agama, Bangsa dan Negara ini mendapatkan tempat yang layak disisi Allah SWT. Amin………


[1] Pemaparan Pegawai Gudang ransoem

[2] Dinas pariwisata dan kebudayaan kota sawahlunto

[3] Brosur objek wisata lobang tambang Mbah Soero

[4] Pemapandan Gigde pak win

Jejak Sejarah dalam Folklore

Aulia Rahman

 

  • Folklore

Folklore sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklorenya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore. Folklore ialah kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat.

  1. Ciri-ciri folklore
    1. Folklore menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
    2. Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yakni dengan tutur kata atau gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya.
    3. Folklore bersifat anonim, artinya penciptanya tidak diketahui.
    4. Folklore hadir dalam versi-versi bahkan variasi-variasi yang berbeda.
      Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya secara lisan sehingga mudah mengalami perubahan.
    5. Folklore bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.
  2. Bentuk-bentuk folklore

1. Folklore lisan adalah folklore yang bentuknya murni secara lisan, yang
terdiri dari:

a)      Puisi rakyat, misalnya pantun. Contoh: wajik klethik gula Jawa
(isih cilik sing prasaja)

b)      Pertanyaan tradisional, seperti teka-teki. Contoh: Binatang apa yang
perut, kaki, dan ekornya semua di kepala? jawabnya: kutu kepala.

c)      Bahasa rakyat, seperti logat (Jawa, Banyumasan, Sunda, Bugis dan
sebagainya), julukan (si pesek, si botak, si gendut), dan gelar kebangsawanan
(raden masa, teuku, dan sebagainya) dan sebagainya.

d)     Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah. Contoh: seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat), koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit) yakni untuk menggambarkan orang
yang bingung.

e)      Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

Folklore sebagian lisan adalah folklore yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: kepercayaan rakyat/takhayul, permainan rakyat, tarian rakyat, adat istiadat, pesta rakyat dan sebagainya.

Folklore bukan lisan (non verbal folklore) adalah folklore yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Contoh: arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Limasan, Minangkabau, Toraja, dsb); kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan dan sebagainya; di mana masing-masing daerah berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa folklore, mitologi,legenda, upacara, dan lagu dari berbagai daerah di Indonesia memiliki nilai sejarah. Semuanya itu memberikan sumbangan bagi penulisan sejarah daerah.Satu hal yang perlu dicermati bila hal itu dijadikan sumber dalam penulisan sejarah, maka perlu adanya kritik sumber sehingga nilai keilmiahan sejarah dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini dibutuhkan kecermatan dan ketajaman untuk menghasilkan interpretasi. Cerita Rakyat terdiri dari budaya, termasuk cerita, musik, tari, legenda, sejarah lisan, peribahasa, lelucon, kepercayaan populer, kebiasaan dan sebagainya dalam populasi tertentu yang terdiri dari tradisi (termasuk tradisi lisan) dari subkultur, budaya, atau kelompok. Itu juga merupakan seperangkat praktik di mana orang-genre ekspresif dibagi. Studi akademis dan biasanya etnografi cerita rakyat kadang-kadang disebut folkloristics. ‘Cerita rakyat’ Kata pertama kali digunakan oleh antik Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal Athenaeum pada tahun 1846. [1] Dalam penggunaan, ada sebuah kontinum antara cerita rakyat dan mitologi. Stith Thompson melakukan upaya besar untuk indeks motif dari kedua cerita rakyat dan mitologi, menyediakan garis ke motif baru yang dapat ditempatkan, dan sarjana dapat melacak semua motif yang lebih tua.

 

Folklore

Folklore dapat dibagi menjadi empat bidang studi: artefak (seperti boneka voodoo), describable dan entitas menular (tradisi lisan), budaya, dan perilaku (ritual). Daerah ini tidak berdiri sendiri, bagaimanapun, seperti yang sering item tertentu atau elemen dapat masuk ke lebih dari satu bidang ini.

 

Artefak

Elemen seperti boneka, barang-barang dekoratif yang digunakan dalam ritual keagamaan, rumah tangan dibangun dan lumbung pangan, [3] dan buatan tangan pakaian dan kerajinan lainnya dianggap rakyat artefak, dikelompokkan dalam bidang sebagai “budaya material.” Selain itu, angka yang menggambarkan karakter dari cerita rakyat, seperti patung tiga monyet bijak mungkin dianggap sebagai artefak cerita rakyat, tergantung pada bagaimana mereka digunakan dalam budaya. Definisi operasi akan tergantung pada apakah artefak yang digunakan dan dihargai dalam komunitas yang sama di mana mereka dibuat.Listen

Read phonetically

 

 

Tradisi lisan

 

Folklore dapat berisi unsur agama atau mitos, itu juga kekhawatiran itu sendiri dengan tradisi kadang-kadang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Folklore sering hubungan yang praktis dan esoteris dalam satu paket narasi. Hal ini sering dicampurkan dengan mitologi, dan sebaliknya, karena telah diasumsikan bahwa setiap cerita kiasan yang tidak berhubungan dengan kepercayaan yang dominan pada waktu itu tidak dalam status yang sama seperti yang kepercayaan yang dominan. Dengan demikian, Roma agama disebut “mitos” oleh orang Kristen. Dengan cara itu, baik “mitos” dan “cerita rakyat” telah menjadi catch-semua persyaratan untuk semua narasi kiasan yang tidak sesuai dengan struktur kepercayaan yang dominan. Kadang-kadang “cerita rakyat” adalah agama di alam, seperti kisah-kisah Mabinogion Welsh atau yang ditemukan dalam puisi skaldic Islandia. “Cerita rakyat” adalah istilah umum untuk berbagai varietas naratif tradisional. Yang menceritakan kisah tampaknya menjadi budaya universal, umum bagi masyarakat dasar dan kompleks sama. Bahkan mengambil bentuk cerita rakyat tentu sama dari budaya ke budaya, dan studi banding tema dan cara-cara narasi telah berhasil menunjukkan hubungan ini. Juga dianggap sebagai cerita lisan untuk diberi tahu untuk semua orang.

Di sisi lain, cerita rakyat dapat digunakan untuk secara akurat menggambarkan narasi figuratif, yang tidak memiliki konten suci atau agama. Dalam pandangan Jung, yang merupakan tetapi salah satu metode analisis, mungkin bukan berkaitan dengan sadar psikologis, naluri pola atau arketipe pikiran. Hal ini mungkin atau mungkin tidak memiliki komponen fantastis (seperti sihir, makhluk halus atau personifikasi dari benda mati). Cerita rakyat ini mungkin atau mungkin tidak muncul dari tradisi agama, namun tetap berbicara dengan masalah psikologis yang mendalam.. Hal itu dipenuhi oleh review menyetujui dan secara signifikan dipengaruhi kemudian penelitian tentang cerita rakyat dan, lebih umum, semantik struktural. Meskipun karyanya didasarkan pada struktur sintagmatik, memberi ruang lingkup untuk memahami struktur cerita rakyat, dimana ia menemukan tiga puluh satu fungsiCultural. William Bascom cerita rakyat menyatakan bahwa cerita rakyat memiliki aspek budaya, seperti memungkinkan untuk melepaskan diri dari konsekuensi sosial. Selain itu, cerita rakyat juga dapat berfungsi untuk memvalidasi sebuah budaya (nasionalisme romantis), serta mengirimkan moral budaya dan nilai-nilai. Folklore dapat juga akar budaya banyak jenis musik. Negara, blues, dan bluegrass semua berasal dari cerita rakyat Amerika. Contoh seniman yang telah menggunakan tema folkloric dalam musik mereka akan: Bill Monroe, Flatt dan Scruggs, Old Crow Medicine Show, Jim Croce, dan banyak lainnya. Folklore juga dapat digunakan untuk menegaskan tekanan sosial, atau membebaskan mereka, misalnya dalam kasus humor dan karnaval Selain itu, studi folklorists sistem kepercayaan medis, supranatural, agama, dan politik sebagai bagian penting, seringkali tak terucap, budaya ekspresif.

Ritual

Banyak ritual kadang-kadang dapat dianggap cerita rakyat, apakah itu secara resmi dalam sistem budaya atau agama (misalnya pernikahan, pembaptisan, festival panen) atau dipraktekkan dalam keluarga atau konteks sekuler. Sebagai contoh, di bagian-bagian tertentu dari Amerika Serikat (dan juga negara-negara lain) satu tempat pisau, atau gunting, bawah kasur untuk “memotong sakit kelahiran” setelah melahirkan. Selain itu, menghitung-out anak-anak game bisa didefinisikan sebagai perilaku cerita rakyat.

Do’a kawan mahasiswa tahun akhir

kawan…
sudah 4 tahun kita disini
entah berapa kali kita bertatap wajah
entah berapa kali kita beradu kata
entah berapa kali kita saling sayat
entah berapa kali kita saling tertawa

kawan…
ini tahun terakhir aku melihatmu
dan entah kapan lagi kita bertemu

selamat kawan, tahun ini…
ku saksikan kamu memakai toga
ku kamu keluar dari gerbang kampus
dengan gelar baru
tapi kawan…
aku disini masih seorang mahasiswa
status yang sama – sama kita pakai dulu
selamat kawan…
kamu terlebih dahulu menempuh dunia
yang lebih nyata dari kampus
selamat kawan
aku akan menyusulmu
Rahman Van Supatra
padang, 19 november 2012

Benteng Van Der Capellen

Oleh Aulia Rahman

Pendahuluan
A. Lokasi Benteng Van Der Capellen
Benteng terletak di Kampung baru Nagari Baringin kec. Lima kaum kab. Tanah datar, Sumatera barat. Dibangun oleh pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1822 yang bertujuan untuk peertahanan dari serangan Paderi yang saat ini mulai bekecambuk gerakan paderi. Setelah perjanjain London belanda kembali memiliki daerah jajahannya di Hindia Belanda termasuk sumatera barat.
Semua daerah jajahan belanda hanya sekitar pantai barat sumatera dan tidak menusuk kearah pedalam sumatera yang sering di sebut darek. Pada 30 November 1795 – 22 mei 1819 ingris berkuasa di sumatera barat dan rentang tahun ini S.T.Raffles melakukan perjalanan kedaerah pedalama sumaatera sehingga melakukan pembuatan catatan perjalanan selama di sumatera. Belanda mengirimkan tertaranya dari Batavia di bawah pimpinan Letkol Raaf dan berhasil menduduki Batusangkar dekat Pagaruyung lalu mendirikan benteng yang bernama Fort Van der Capellen. Kubu pertahanan yang dibangun Belanda waktu itu berupa bangunan gedung dari beton yang mempunyai ketebalan dinding ± 75 cm, ± 4 meter dari dinding bangunan dibuat parit dan tanggul pertahanan yang melingkar mengelilingi bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van Der Capellen sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Belanda waktu itu.
Pada tahun 1821 rombongan penghulu dari tanah datar menemui Puy di padang untuk meminta bantuan belanda melawan gerakan Paderi. Isi perjanjian 10 Februari 1821 antara lain : Kepala penhulu dari pemerintahan kerajaan pagaruyung menyerahkan kekuasaan ke Pmerintahan Hindia Belanda; Tidak menentang Hindia Belanda
Koordinat situs00o 27′ 16.70″ LS 100o 35′ 46.00″ BT. Luas area benteng secara keseluruhan 8880 m2 dan luas bangunan benteng 22 x 22 m 2. Untuk lokasi sekarang ini benteng letak sangat strategis berada di pusat kota Batusangkar.
B. Transportasi
1. Pusat transportasi dari kota Padang sebagai Ibukota sumatera barat berjarah kita ± 100km atau 3 jam perjalanan dengan Bus.
2. Dari pusat kota batusangkar itu sendiri ± 10 menit jalan kaki, letak benteng yang tidaj jauh dari taman kota yang di sebut lapangan cindua mato.
C. Jumlah Penduduk
Benteng van der capellen terletak di jorong Kampung baru nagari Beringin kec. Lima kaum Kab. Tanah Datar dengan jumlah penduduk 14.340 jiwa luas nagari beringin ± 12,35 km².
D. Sumber Daya Alam
Sumber Daya alam yang ada hanya lahan pertanian
E. Hamparan Alam
Pembangunan Benteng Van Der Capellen merupakan daerah teringgi dari nagari Baringin yang di sini juga menjadi pusat kota Batusangkar. Alam yang datar dan sebelah barat ada sedikit berlembah.
Bab II
Catatan Sejarah dan Dokumentasi
A. Dokumentasi Pemerintah
Dalam hal ini yang berwenang adalah BP3 Batusangkar yang menjadi penangungjawab dari pelestarian Benteng Van Der Capellen. Sedikit gambar area benteng sekarang ini dijadikan tempat pelatian dan persiapan Jambore nasional oleh pemrintahan tanah datar. Latian ini diadakan pada setiap hari minggu. Selain itu dinas kebudayaan dan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng tanah datar juga mempunyai andil dalam dokumentasi. Ada beberapa intansi yang harus penulis temui untuk mendapatkan dokumentasi pemerintah:
1. Batalyon 439 Diponegoro
2. Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar
3. Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala
4. Dinas kebudayaan dan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng
5. Gugus Depan( bagian kepramukaan)
Pada tahun 2008 sebahagian dari bangunan Benteng Van Der Capellen telah direnovasi oleh Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala kemudian akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2009 ini, yaitu mengembalikan ke bentuk aslinya.
Keberadaan Belanda di Batusangkar sampai saat meletusnya Perang Dunia II. Pada saat Jepang berhasil merebut Sumatera Barat kemudian Belanda meniggalkan Batusangkar. Benteng Van Der Capellen kemudian dikuasai oleh Badan Keamana Rakyat (BKR) dari tahun 1943-1945. Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajahan Jepang, Benteng Van Der Capellen kemudian dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu Agresi Belanda II, Benteng Van Der Capellen kembali dikuasai Belanda selama dua tahun, yaitu tahun 1948-1950.
Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van Der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) untuk proses belajar mengajar yang saat itu diresmikan olah Prof. M. Yamin, SH. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG berlangsung sampai tahun 1955 dan pada tahun itu juga PTPG dipindahkan ke Bukit Gombak.
Benteng Van Der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia. Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van Der Capellen dikuasai oleh Batalyon 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada POLRI pada tanggal pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh POLRI kemudian ditetapakan sebagai Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van Der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan baru yang berada di Pagaruyung.
Beberapa perubahan bangunan, antara lain atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk serse dan dibangun pula TK Bhayangkari. Parit yang masih ada disebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin dan bangunan untuk gudang.
Pada Tahun 2008 sebahagian dari bangunan Benteng Van Der Capellen telah direnovasi oleh Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala kemudian akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2009 ini, yaitu mengembalikan ke bentuk aslinya. Pada tahun 2011 Benteng Van Der Capellen dijadikan sekertariat Panitia Penyelengaran Jamboter Budaya Serumpun Indonesia Dan Malaysia.
Sekitar 90 persen dari 442 benteng di Indonesia musnah, rusak, dan beralih fungsi. Tim dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala kini tengah mengkaji pemanfaatan benteng-benteng tersebut. Beberapa benteng yang kondisinya baik dan bernilai ekonomis, antara lain Benteng Vredeburg (Yogyakarta), Vastenburg (Solo), Fort Van Der Capellen (Batusangkar), Marlborough (Bengkulu), dan Fort Rotterdam (Makassar).
Komplek Benteng Fort Van Der Capellen Batusangkar, Tanah Datar, Sumbar, akan dijadikan lahan terbuka hijau. Ditetapkannya benteng bangunan Belanda tahun 1822-1826 menjadi taman kota untuk penyangga kawasan Indo Jalito. Nantinya bangunan yang sudah masuk sebagai situs Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng tersebut akan terlihat hijau dan asri. Hal teresebut dalam meningkatkan paru-paru kota Batusangkar. Demikian dikatakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Tanah Datar, Marwan, S.E menjawab korandigital.com Selasa (13/7/2010) di Batusangkar.

Analisa Perkembangan Potensi Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng
Sesuai dengan UU No 11 Tahun 2010 ada beberapa yang perlu diketahui dalam prinsip – prinsip pelestarian benda arkeologi antara lain; cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Benda cagar budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia. Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
Zaman sekarang terjadi salah pandangan atau cara berfikir mengenai benda cagar budaya, baikdari segi pengolahan, pelestarian, pemanfaatan serta publikasi. Hal ini, akan terlihat jelas ketiak terjadi pembangunan situs wisata kesejarahaan. Ketika benda arkeologi tersebut akan dijadikan kawasan wisata akan terjadi pertentangan pandangan mengenai benda arkeologi. Disisi benda tersebut akan terlihat seksi, menarik, megah ketika dibangun ulang maupun dipugar, sedangkan pihak lain akan mempertahankan keaslian benda arkeologi walaupun sedikit cacat dimakan zaman. Dalam prinsip – prinsip pelestarian benda arkeologi sebuat benda arkeologi akan dipertahankan keasliannya untuk menjadi nilai –nilai yang terkandung dalam benda tersebut. Dan tidak diperbolehkan menukar keaslian benda arkeologi
Untuk pengembangan potensi Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng Benteng Van Der Capellen da beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Mengkaji ulang Tata Ruang kota Batusangkar
Tata Ruang kota Batusangkar sekarang ini adalah warisan colonial Belanda. Tata ruang ini sudah relative bagus untuk kota sebesar kota Batusangakat tapi tidak memungkinkan untuk pegembangan Benteng menjadi tempat wisata.
Letak benteng yang tidak jauh dari pusat pasar, lapangan bola, sekloah, kantor lantas, termilan.
Disatu sisi ada kebaikan untuk mendatangkan orang berwisata tetapi kendala kemacetan akan mengintai di masa depan. Angkat yang masuk kebadan kota mengakitbatkan kemacetan pada Hari balai yaitu hari kamis. Belum lagi berdekatan dengan sekolah – sekolah mulai sari sekolah dasar sampai sekolah menengah., taman kota yang di tempati oleh anak – anak sekolah yang untuk ngumpul
2. Kurangnya publikasi
Sekarang benteng Van Der Capellen hanya di kenal sebgai benteng belanda tapi sejarah public yang menerangkan tidak ada yang lebih rinci bagaiman riwayat dari benteng tersebut.
3. Pengembangan transportasi wisata sejarah keliling kota Batusangkar
Salah satu dengan kereta api. Kereta api merupakan alat transportasi public yang sangat ekonomis, efektif dan efesien. Dengan kontruksi yang disesuaikan dengan kondisi alam sumatera tidak bersahabat sering dilanda bencana terutama bencana gempa. Rel kereta api yang bergerigi merupakan adopsi untuk ketahanan terhadap bencana, selain itu kontruksi teksini seperti ini merupakan satu – satunya ada di sumatera yaitu di jalur padang panjang. Dapat dibayangkan perbukitan dan gunung – gunung berapi yang ada di sumatera barat antara lain Gunung Merapi, Gunung Sago, Gunung Singgalang, Gunung Talang, Gunung Talamau, Gunung Pasaman, Gunung Talang dan Gunung Kerinci yang sering “batuk – batuk” mengkibatkan keadaan tanah yang sekitarnya bergoncang. Keadaan gunung yang mengelilingi daerah ini , potensi bencana alam terutama gempa, banjir bandang dari gunung setiap saat dapat melululantakan pemukiman masyarakat disekitarnya. Belum lagi pulau sumatera berada di pertemuan 2 lempeng yang setiap saat siap mengoncang.
Kereta api dipergunakan untuk menganggut hasil alam, manusia dan batubara dari kota sawahlunto. Setelah dibukanya tanbang batu bara di kota sawahlunto tahun 1891, kereta api lebih sering difungsikan untu pengangkuta batu bara dari kota sawahlunto ke kota padang untuk di angut ke Eropa melaulu Pelabuhan teluk Bayur.Untuk kota Batusangkar sendiri bias dibangun rel pendek kereta wisata sejarah.
Selain ini, pembuatan jalur khusus kereta dan mereka untuk pengembangan kota lama kota Batusangkar.
4. Pembuatan acara yang berskala daerah dan nasional untuk pengembangan dan sara promosi benteng .
5. Membuat taman benteng yang tidak mengangu gugat bentuk asli benteng. Dengan letak tinggi di kota batusangkar, pengembangan menara untuk melihat kota batusangkar dari tempat tinggi. Sebagai kota budaya pecan budaya bias di helatkan di benteng ini.

Ketika terjadi perubahan secara fisik, struktur benda arkeologi akan menghancurkan sistem nilai yang diendapkan dalam benda arkeologi. Benda arkeologi, situs, kawasan serta bangunan yang mewakili cara berfikir masyarakat pada zaman tersebut sehingga kehilangan salah satu unsur akan merubah sistem yang ada dan dapat mengubah pandangan kita dimasa sekarang. Mengabaikan prisnsip – prisip pelestarian benda arkeologi berbagai unsure filosofis, unsure kebudayaan, ilmu pengetahuan dan nilai kesejarahan akan hilang begitu saja tanpa bsa dilacak secara jauh.
Pemahaman yang salah dalam pelestaraian benda arkeologi akan menghilangkan jalur akses informasi ke masa lalu. Sehingga data yang didapat dari penelitian, pelestarian, pemanfaatan dan publikasi benda yang dilestarikan dengan mengabaikan prinsip – prinsip pelestarian akan memberikan data yang tidak valid untuk generasi akan datang. Intinya ketika terjadi perubahan baik secara struktur akan mengubah cara berfikir masyarakat baik yang didapat dimasa lalu dan masa sekarang serta masa depan.
Kesalahan dalam pelestaraian sebagai contoh kita ambil dalam pemugaran sebuah bangunan tembok buatan masa Belanda. Ketika bangunan tersebut akan dipugar tetapi ada satu bagian tiang yang rusak, maka cara terbaik adalah mencarikan bahan bangunan yang sezaman yang telah roboh kalaupun susah dicarikan bahan yang hampir serupa dengan banguan yang akan dipugar. Hal ini dinamakan dianalgokan artinya dicarikan bahan yang hampir sama dengan bentuk asli.
Pelestarian benda arkeologi erat kaitannya dengan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng. Kurangnya pengetahuan memperlakuan, memanfaatkan, melestarikan benda arkeologi akan terjadi kesalahan dalam publikasi benda yang mempunyai muatan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan dan sejarah akan berdamapk yang tidak baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Selain, erat juga kaitannya dengan pengolahan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng berbasis orientasi kebijakan. Pergantian kepala daerah akan berbeda pola – pola orientasi kebijakan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng yang berbasis kesejarahan. Tidak dapat kita menutup mata bahwa orientasi kebjakan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng sekarang ini adalah berbasis kapitalisme, mengedepankan kepentingan bisnis menyampingkan keaslian sebuah benda mempunyai muatan sejarah. Ada sebuah pandangan ketika seseorang wisatawan mancanegara dalam untuk melihat wisata kesejarahan, mereka akan melihat keaslian benda cagar budaya yang unik tanpa terkontaminasi oleh perkembangan zaman sekarang dan suasana masa lalu tergambar jelas.
Kedepan kita berharap akan lahir insan – insan generasi yang mengenal, mencintai dan melestarikan budaya, memanfatkan benda arkeologi yang mengikuti alur prinsip – prinsip pelestarian arkeologi. Adanya sinkronisasi antara pembuat kebijakan, insan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng, dan pengiat arkeologi baik ditingkat Lokal maupun Nasional.

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas bahwa benteng Van Der Capellen dijadikan tujuan wisata sejarah Kab. Tanah Datar. Pengembangan potensi in I sangat memungkina untuk pertambahan perekonomian dan pengenalan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng.
B. Kritik Dan Saran
Di dalam penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kami mohon kritik dan saran dari semua pihak agar penulisan makalah kami yang selanjutnya bisa menjadi lebih baik.

Daftar Pustaka
Gusti Asnan, Pemerintahan Sumatera Barat Dari VOC Sampai Reformasi, Yogyakarta: Citra Pustaka, 2006
M.D Mansoer Dkk, Sedjarah Minangkabau, Djakarta: Bra- Tara, 1970
Ricklefs, M.C, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008, Jakarta: Serambih, 2008
Rusli Amran, Sumatra Barat Sampai Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan, 1981
—————-, Sumatra Barat Sampai Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan, 1985
http://in.tanahdatartourism.com/index.php?option=com_content&view=article&id=66&Itemid=74

Laporan Perjalanan

MENELUSURI WISATA AIA BULUIH, JEJAK PRRI SUNGAI PATAI dan BATAS NAGARI

BAB I

Pendahuluan

  1. 1.      Latar belakang Kegiatan

Secara kasat mata ilmu sejarah adalah  ilmu yang berhubungan langsung dengan manusia. Dibandingkan dengan diplin ilmu lain sejarah menjadikan masyarakat sebagai labor penelitian di samping  buku sebagai acuannya. Berbeda dengan ilmu Eksata lainnya masyarakat adalah labor bagi ilmu sejarah. Maka dari itu untuk mempermudahkan terjun langsung kemasyarakat perlu diadakan check langsung ke lapangan. selain itu, berhungan dengan sumber sejarah itu susah suah mudah, karena diperlukan waktu, tenaga fikiran tentunya untuk mendapatkan sumber yang Valid.

Sebenarnnya ide untuk menelusuri Jejak PRRI, Wisata Alam aia Buliuh merupakan kegiatan untuk meningkatkan hobi masyarakat terutama kaum muda Sungai Patai untuk mengetahui lebih dalam tentang nagari mereka.

Maksud dan tujuan Kegiatan penelusuran

Kegiatan bermaksud untuk memperkenalkan Pemuda tentang tempat – tempat yang focus dalam mendokumentasikan, merawat dan melestarikan peninggalasn sejarah baik dalam bentuk buku, foto, arsip dan media lainya.

Tujuan

  1. Pemuda mengetahun tempat – tempat pendokumtasikan peninggalan sejarah
  2. melatih Pemuda untuk mengumpulkan sumber tertulis, karena tidak akan mungkin dapat melakukan penelitian sejarah jika meninggalkan salah satu metode penelitian yaitu Heuristik.
  3. Melatih Pemuda untuk wawancara dan mendapatkan sumber tertulis dengan hasil wawancara lansung ke pusat sumber.
  4. Melatih untuk mengetahui nagari lebih mendalam baik tempat wisata, tinggalan sejarah, batas nagari serta hal lain yang berhubungan dengan nagari sungai patai.
  5. 2.      Ruang lingkup isi laporan

Laporan ini berisikan tentang catatan perjalana dari Kegiatan dan hal yang didapat sewaktu di lapangan. Mulai dari persiapan samapi kegiatan ini selesai. Pada bagian hasil kegiatan itu menerangkan bagaimana kegitan itu berlangsung.


BAB I

ISI (PEMBAHASAN)

  1. 1.      Persiapan Kegiatan

–          Diskusi keberangkatan pada malam hari sehari sebelum keberangkatan

–          Mengumpulkan orang yang akan pergi untuk berangkat ke lokasi yang dituju

–          Menanyakan keadaaan medan yang di lalui walaupun belum secara pasti

  1. 2.      Jenis kegiatan

Kegiatan ini semacam perjalanan yang hanya menentukan tujuan akhir. Sehingga terkesan seperti pertualangan untuk mencari lokasi. Selain itu kegiatan ini bisa disebut semacam hiking.

  1. 3.      Waktu dan tempat

Hari /Tanggal : minggu / 26 Februari 2012

Tempat :

  1. Aia buluih
  2. Jejak PRRi di sungai patai
  3. Batas nagari sungai patai dengan Kabupaten Lima Puluh Kota.
  4. 4.      Peserta kegiatan

Peserta adala pemuda sungai patai berjumlah 14 orang dengan rincinan

  1. Wilson ( da win )
  2. Ronal Fenandes
  3. Eko trisno
  4. Rengga jendera
  5. Dipo candra
  6. Izon
  7. Melki
  8. Megi Ariska
  9. Rahman
  10. Riga prima
  11. Afdol syukron
  12. Alfi
  13. iing
  14. Nanda”bule”
  1. 5.      Kesulitan dan Hambatan
  2. Prediksi cuaca yang kutang mendukung pada pagi menjelang keberangkantan sehingga mengulur waktu keberangkatan
  3. Kurang kordinasi Waktu yang sangat singkat. Dengan waktu sehari dan mungkin beberapa jam saja di lokasi menjadikan kami sangat penasaran.
  4. Minimnnya peralatan
  5. 6.      Kondisi selama perjalanan

Jadwal keberangkatan semula direncanakan pada pukul 8, akan tetapi karena kondisi pada pagi hari diguyur hujan  maka di undur. Selama pengundungan jadwal keberangkatan in dikumpulkanlah orang yang akan pergi berangkat sehingga terkumpul 12 orang yang siap untuk berangkat.

Menjelang keberangkatan terkendala juga pada bagian logistic. Menunggu nasi yang akan dibawa untuk makan di perjalanan ternyata sangat lama sehingga kami berangkat pada jam 10.

Setelah sampai di Golowe, melki ternyata meminta untuk di tunggu. Setelah itu kami melanjutkan keberangkatan. Sampai di baying – bayang air, kami melanjutkan untuk menngambil jalan yang mendaki denga tujuan menyingkat waktu dan juga dekat walaupun medan nya sulit.

di bonto, persimpangan untuk menuju aia buluih nanda sudah menunggu sambil makan nasi, pada waktu itu sudah sepantasnnya makan sian yaitu pada jam 12. 30 an. Samapi di jalan di tempat bekas penebangan pohon, da putra menelpon salah seorang yang sudah pernah kesan. Hm….. sudah di tengah rimba kami masih bisa menelfon, betapa canggihnya dunia saat ini. Tujuan menelfon adalah untuk memastikan jalan menuju air buluih. Benar… tiu jalan yang di tunjukan nanda. Karean dia bertanya kepada orang yang mngangkut kayu hasil dari penebangan pohon dihutan.

Sebenarnya kami belum mengetahui secara pasti dimana lokasi air buluih tersebet, hanya mengacu pada foto yang ada di kantor wali nagari dan bertanya – Tanya pda orang – orang yang pernah kesana.

Pada awalnya kami mengira ada sebuah ngarai itu adalah aia buluih akan tetapi tidak sama dengan foto yang ada di kantor wali nagari, singgah sebentar di ngari tersebut kami melanjutkan perjalanan kearah lembah.

Ada beberapa kali persimpangan memutar arah. Akhirny kami sampai di sebuah goa yang juga kami kita itu adalah aia buluih. Setelah jam 1 siang kami memutuskan untuk makan siang dan memasuki goa tersebut.

  1. Hasil kegiatan
  2. a.      Aia buluih

Menurut cerita yang didatap dari  mulut kemulut aia bulih merupakan objek wisata alam yang sangat menarik.menurut cerita yang kami dapat dari orang – orang yang oernah kesini sebelumnya air ini mengalir sampai ke Piladang kab. Lima puluh kota. Selain ini suasan yang sangat menegangkan untuk masuk ke goa ini penuh tantangan bagi mereka yang ini menguji adrenalin.

salah satu goa aia buluih

  1. b.      Markas PRRI

Goa dari zaman dahulu merupakan temat yang paling nyaman untuk bersembunyi. Hal ini juga dlakukan oleh orang yang ada di sungai patai untuk bersembunyi dari pengejaran tentara pusat pada saat bergolaknya peristiwa PRRI.

PRRi juga menpunyai kisahnya sendiri. Menurut cerita yag didapat dari pelaku ssendiri yang diceritatakn secara turun temurun di goa ini gua bisa main pimpong ini terlihat ada bekas dari susunan batu yang datar dan berbentuk berundak – undak.

  

Goa persembunyian Pelaku PRRI Sungai patai

 

Tungku bekas memasak

Bebatuan bekas pamotuan tempat persembunyian

Peserta yang ikut dalam petualangan foto bersama di mulut goa

Peserta yang ikut dalam petualangan foto bersama di mulut goa


BAB III

PENUTUP

  1. a.      Kesimpulan

Banyak hal baru yang kami dapat di sini mulai dari mengetahui keindahan Maha karya Allah SWT. peninggalan sejarah yang belum terungkap dengan jelas sehingga kami semakin mencintai tanah dinama kami berpijak khusus tanah Sungai patai

  1. b.      Kritis dan saran
  2. Laporan ini jauh dari hasil yang diharapkan harap masukan dari pembaca untuk membangun penulis kedepan.
  3. Semoga kegiatan ini bekelanjtan guna untuk pembangunan negri dimasa mendatang

Bara Api diMalam Minggu

Biarkan senja itu tetap indah, Karena disitulah terlihat bahwa itu senja.

Biarkan bintang kejora bersinar di ufuk timur karena itu yang dinamakan fajar

Mungkinkah malam selalu dingin tanpa ditemani bintang yang bersinar dipadukan dengan eloknya senyuman purnama.

Ditengah terpaan embun yang membasahi rumput ditiup angin malam

pagiku bukanlah pagimu, bukan pagi mereka

malamku bukanjua malammu, bukan malam mereka

Purnama malam ini seakan menertwakan aku, Hanya duduk didepan api unggun yang tidak mau menyala bahkan baranya pun tidak mau muncul hingar binger laju pejuang malam selalu terdengar, seakan menuai badai petempuran hati.

depan Api unggun

6 Mei 2012

Senyuman Abu – Abu

Aku tidak tahu makna titipan itu

titipan seakan sebuah celaan atau pujian

 

Dibawah pondok putih, tersenyum dengan tatapan indah,

aku tidak tahu makna titipan senyuman itu.

Senyuman yang seolah – olah meruntuhkan pondok putih.

siapa yang tahu arti dari senyuman itu,

Angin ikut hening bersama senyuman itu, senyuman yang keluar dari rumput padang yang tandus.

aku pertanyakan senyuman yang keluar dari bibr mungil, tapi tembok besar menghadang pertanyaanku.

 

Danguang Dangaung

5 MEI 2012