Senja Yang Jingga

Mengapa harus berteriak jika teriakan itu tidak didengar
mengapa berteriak jika teriakan itu memekakkan telinga
tidurlah dalam kepekaan akan rasa yang aku berikan
sehingga kamu tertidur dengan nyenyak
karena malaikat juga tahu apa yang aku teriakkan

mengapa harus berbisik
jika bisikkan sampai pada telinga tertutup
mengapa harus berbisik
jika bisikkan membuat hati menjadi abu – abu
karena Malaikat juga tahu apa yang aku pendam

Akan aku katakan pada Jingga,
akan lebih indah jika senja itu jingga
walau tanpa harus ditemani awan.

Padang, 20 November 2012

Advertisements

Do’a kawan mahasiswa tahun akhir

kawan…
sudah 4 tahun kita disini
entah berapa kali kita bertatap wajah
entah berapa kali kita beradu kata
entah berapa kali kita saling sayat
entah berapa kali kita saling tertawa

kawan…
ini tahun terakhir aku melihatmu
dan entah kapan lagi kita bertemu

selamat kawan, tahun ini…
ku saksikan kamu memakai toga
ku kamu keluar dari gerbang kampus
dengan gelar baru
tapi kawan…
aku disini masih seorang mahasiswa
status yang sama – sama kita pakai dulu
selamat kawan…
kamu terlebih dahulu menempuh dunia
yang lebih nyata dari kampus
selamat kawan
aku akan menyusulmu
Rahman Van Supatra
padang, 19 november 2012

Bara Api diMalam Minggu

Biarkan senja itu tetap indah, Karena disitulah terlihat bahwa itu senja.

Biarkan bintang kejora bersinar di ufuk timur karena itu yang dinamakan fajar

Mungkinkah malam selalu dingin tanpa ditemani bintang yang bersinar dipadukan dengan eloknya senyuman purnama.

Ditengah terpaan embun yang membasahi rumput ditiup angin malam

pagiku bukanlah pagimu, bukan pagi mereka

malamku bukanjua malammu, bukan malam mereka

Purnama malam ini seakan menertwakan aku, Hanya duduk didepan api unggun yang tidak mau menyala bahkan baranya pun tidak mau muncul hingar binger laju pejuang malam selalu terdengar, seakan menuai badai petempuran hati.

depan Api unggun

6 Mei 2012

Senyuman Abu – Abu

Aku tidak tahu makna titipan itu

titipan seakan sebuah celaan atau pujian

 

Dibawah pondok putih, tersenyum dengan tatapan indah,

aku tidak tahu makna titipan senyuman itu.

Senyuman yang seolah – olah meruntuhkan pondok putih.

siapa yang tahu arti dari senyuman itu,

Angin ikut hening bersama senyuman itu, senyuman yang keluar dari rumput padang yang tandus.

aku pertanyakan senyuman yang keluar dari bibr mungil, tapi tembok besar menghadang pertanyaanku.

 

Danguang Dangaung

5 MEI 2012

Inkah negeriku

padi menguning, kerbau bergembira membajak sawah tapi itu dulu

kerbau berganti dengan onggokan besi berjalan,

belut di dalam sawah berlarian kocar – kacir mendengan deru onggokan besi

 

ayam kokok dengan suara keras membangunkan subuhku,

kicauan burung merdu dipagi hari tapi itu dulu ketika pohon kelapa masih senang meliuk – liuk di atas hamparan padang luas.

 

sekarang …….

kuning padi digantikan oleh petak – petak semen,

bukit hijau  diganti dengan belasan orang berdasi siap mengkapling tanah

kelapa pun digantikan oleh gedung sekan menjadi tangga untuk naik keatas langit.

seakan membiarkan kuning padi, bukit hijau, kicauan burung di pohon tergantikan oleh koin emas yang bersilau hanya semenit, sejam bahkan tidak sampai berbulan.

 

nanti…..

tidak terlihat kuning padi  itu tapi yang terlihat hanya kerangka berjalan yang terbungkus kulit

bukit hijau menjadi bangunan yang diseling air setinggi lutut, dan kicauan burung berganti dengan alunan music menghentak bumi.

 

 

Fak. Pertanian UNAND

10 Mei 2012

Bunga tahi lalat

aku hanya dapat melihat bunga itu dari jauh
aku belum tahu seperti apa bunga itu.
Punya pagarkah?
Atau bunga itu bunga larangan.
Tapi aku nyaman ketika melihat bunga itu, bahkan melihat pucuk bunga saja.

Tapi sangat disayangkan kakiku kaku untuk berjalan melihat bunga itu. Aku takut…
Sangat takut sekali….
Pergelanganku sakit, kakiku pincang, bahkan ibaratkan kumbang patah sayap.

Oh mimpi apa aku malam ini.
Sehingga berani untuk mendekat bunga itu. Aku sadar aku bukan lah orang yang tepat. Jangankan memetik melihat aku tidak boleh.

Oh mimpi apa aku malam ini…
Sehingga aku berangan – angan untuk melihat bunga itu. Sepertinya aku terbawa mimpiku saja sehingga berfikir untuk melihat dan mendekati bunga itu.

Lubuak Guci,
26 Februari 2012

Berawal Dari Tikar Merah

Cerpen

Siang ini panas mentari menyengat, eringat sampai membanjiri tubuh yang penuh dengan beban dosa, entah mentari inngin membakar semua dosa adau bumi tidak mamup lagi menaggun dosa manusia,

“daripada kita dudk di tanah ini lebih baik ambil tikar trus tidur – tiduran kita disini” usul Supatra

“Lubuak aluang banda kali langsuang alah kali” kata pria yang kata pria paling sangar tapi hatinya romantic  sekaliii

“Di ambil tikar yang ada dalam rumah” cetus Coni.

Aldi pria yang penurut semua keinginan Brothers nya. Dari jandela aldi melempar tikar “ oi… sambiuk koa”

Sekilas rumah terlihat habis dibersihkan sebelum kami sampai di daerah ini. Parulangan, ya ini adalah nagari tempat kami mengabdikan diri selam satu bulan. Menurut cerita rakyat setempat, Pada abad ke 14 Masehi, telah ada hubungan masyarakat Nan Ba Koto, sehingga terjadi musyawarah mufakat untuk membuat atau menyusun suatu Nagari. Dalam musyawarah tersebut terjadi berlainan pendapat dan tanggapan hingga sulit mengambil suatu kesimpulan, sehingga musyawarah diundur sampai mendapat waktu yang tenang dan pikiran yang sehat bagi masing-masing yang hadir.parulangan berasal dari kata tempat kunjung raja alam pagaruyung.

Sudah 4 hari kami Nerada di naari yang menjadi ikon perkampungan adat di daerah sijunjung. Sungguhhari yang sangat panjang. KKN ya…..itulah nama pengabdian masyarakat yang diwajibkan untuk mahasiswa yang telah semester 6.

Ami kuliah di Universitas terbesar di Asia tenggra. Universitas andalas, suatu kebanggasan tersendiri bagi mahasiswa yang kuliah disini, walau sistemnya masih bobrok, lacur, kacau dan lainnya tapi kami tetap bangga sebagai mahasiswa unand.

Loh kok jadi curhat….

Tikar merah telah dibentangkan, disini mulailah pertualangan kami di nagari parulangan persahabatan, perselisihan, rindu, cinta, makan dapur, smua menjadi satu……

“ kawan awak sadang panic kini” cetus Da cak

“Dek ap….o .???? serempak 4 orang temannya bertanya

“Ikolah kawan semacam pilhan hati, awak ingin ada seorang yang ingin merubah hidupku ker rah yang lebih baik tapi awak bingung kawan!!! Tangap Da Cak

Sekilas da Cak hidup seperti tanpa beban dalam hidup ini, oh…..ternyata dia juga bias panic. Emang manusia tidak terlepas dari keluh kesah….sudah menjadi tabiat manusia dari pencipta.

Iko masalah hati kawan…rumit kawan yo sabana rumit…!!!!!

Da Cak Mulai MELACUR….

Eh…. Jangan salah arti melacur itu artinya melakukan curhat…..

Kira – kira apa yang dilakukan dibicarakan oleh 5 orang pria ini ikut kisah selanjutnya dalam judul ” Waktu Dapat Merubah Semuannya”

 Bersambung……………..

RVS. Paru, 14 Juni 2011

Ayat – ayat Pagi itu

Seperti subuh lainnya….

termenung di sudut kamar yang munguil

Lantunan ayat – ayat suci belum bisa

mendobrak kerasnya hati yang beku ini

Entah  terlarut dalam mimpi indah itu

Seperti bisa….

Pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya

Kaki pucat tangan berkerut

Kadang berfikir……

 

Di penantian panjang nanti

dinginnya akan terasa lebih dari yang dibayangkan

 

Dan…..

Tidak seperti biasnya…

Pagi ini kebekuan in mulai mencair

Apakah ini ini petanda

Aku akan berlari sendiri

Ditengan dingin dan gelapnya

Gerbang keabadian…….

Paru, 18 Juni 2011

Nestapa tersembunyi

kemeja rapi dengan balutan celana dasar

jilbap panjang menutupi seluruh tubuh

 

dalam tubuh itu tersimpan ruh dakwah

ruh yang takuluk pada Tuhannya

dalam tubuh itu tesimpan gairah jihad

gairah untuk menegakkkan agama Tuhannya

ditubuh itu juga masih tersipan nestapa dunia

dalam itu tersipaman pengahapan Mardhotillah dan keabadaian surga

 

tapi……………

dalam tubuh itu bersemayan sifat sombong, riya angkuh dan suri tauladan

apakah masih murni pakaian yang dikenakan itu???????

tanya pada seonggok daging yang ada dihati mu

 

 

gubuk derita, 13 Februari 2011

Rahman Van Supatra

Catatan perjalanan dari senja menuju pagi

Catatan perjalanan dari Padang ke Danguang Dangaung

Malam 4 Mei dan 5 mei dinihari 2012

Hampir setiap saat sjak jam 4 sore ini Hp ku berbunyi ada sms masuk.  hari ini aku akan berangkat ke suatu kegiatan di kabupaten lima puluh kota, tetapnya Danguang – danguang. Sebenarnya aku belum tau secara pasti lokasinya, bermodalkan pengalaman ku pernah pergi ke kota payakumbuh.

selesai sholat magrib aku mencari salah seorang senior jususanku untuk mencari mobil ke teminal bus kota payakumbuh. Sebenarnya aku sangat takut, aku memabawa lima orang perempuan berangkat dari kota padang ke Lima puluh kota naik mini bus jam 8 malam. Sungguh sebuah hal yang menakutkan bagiku. Terlebih kata kak Maira yang meninipkan adik – adik perempuan peserta panitia kegiatan itu. Kalau pikiran burukku seandainya saaja orang supir beniat buruk bagaimana, gimana aku harus bertanggung jawab kepada orang tua mereka, cowok mereka, kampus pokonya banyak lah. Oh ya hampir lupa aku Cuma tau nama singkat dari perempuan yang manis – manis itu, sebelum berangkat aku tanya nama mereka Salwa, Iga, Giza, Icha, Wita dan Afda.

Selama perjalangan tanganku selalu dalam tas kecil kesayangan. Dalam tas tangan sudah siap denga sebilah pisau untuk jaga – jaga kalau terjadi hal yang tidak diingikan. Dalam perjalanan aku berusaha untuk berbicara dengan pak supir, ya lumayan asyik juga tapi kewaspadaan tetap aku jaga. Coba bayangkan jalan malam dengan banyak anak gadis yang manis, Cuma ditemani laki – laki kurus pendek, sekali pukul saja langsung roboh. Beberapa waktu akau terus meperhatikan mereka, takut kalau terjadi apa – apa.

Setelah 4 jam berjalan aku sudah sampai di lokasi,

Wah,,, dingin sekali, seperti mau beku akau disini. Tapi yang lebih membahagiakan adalah aku dan rombongan sampai selamat tiba di lokasi kegiatan tanpa kurang satupun yang mungkin yang tinggal jejek sendal dimini bus. Semuanya sudah mulai ngantuk, turus dari mobil saja setengah sadar.

****

Malam itu mereka duduk bersama, sambil mendengarkan nyanyian merdu suara Om Iwan Fals lewat speker box, hentakan musik itu terdengan sampai ketelinga aku, lidah juga ikut bergoyang mengikuti suara om Iwan…

Riyon :” hah… lagu apa lagi yang harus kita dengarkan nih, sudah hampir setengan album kita mendengarkakan nya”

 

Bos :” oh ternyata rayon OI juga ya…? si Bos mememulai percakapan malam itu,

rayon : “iyo lah, kata – kata dalam lirik lagu banyak mengandung arti dan sangat sesuai dengan kondisi yang ada sekarang ini” rayon seakan memancing untuk diskusi masalah sekarang ini menimpa bangsa yang aku cintai ini.

ya…. kondisi negaraku ini sudah dikatakan sebagai negara yang kritis, mulai dari masalah moral, masalah akhlak seperti yang Om Iwan sampaikan dalam lirik lagu Manusia setengah dewa, sampai masalah pemerintahan.

dulu kata orang tua – tua negara ini aman sentosa, sejahtera bahkan keamaman terjamin, itu kata orang – orang yang hidup di zaman orde baru, tapi aku Cuma bisa mendengarkan karena aku tidak hidup di zaman itu, akan tetapi jika ditanyakan pada orang – orang yang sempat merasakan ciprakan zaman itu mungkin zaman yang paling enak menurut mereka, lantas jika ditanyakan pada aktivis yang hidup di zaman itu mungkin zaman itu bagaikan perjara pergerakan bagi mereka, terlebih pada mahasiwa dan orang yang vokal mengkritisi kebijakan pemerintah, sampai – sampai dalam kisah Om Iwan fals juga merasakan ketidakadilan zaman itu hanya karena lagu Bongkar.

lagu di speker box terus berganti, sementara aku sibuk berdebat dalam pikiran aku tentang zaman orde baru.  Lantas aku berimajinasi untuk terbang ke zaman orde baru merayap dan merangkak untuk masuk ke detik detik menjelang keruntuhan zaman itu ketika mahasiwa angkatan 1998 berhasil memaksa Presiden Soeharto untuk membacakan surat pengunduran dirinya. Seakan akau ikut terhanyut dalam alamunan sendiri.

Hampir setengah jam aku berdialaog dan berdiskusi di dalam pikiran. Setelah puas rasanya aku ikut untuk bernyanyi bersama mereka. Malam telah menjadi pagi ketika jam telah menunjukkan jam setengah 3 dini hari, mataku mulai mengantuk, Bos sudah memejamkan matanya sejak setengah jam yang lalu. Tiba – tiba aku tertidur……. dan terbangun jam setengah lima, akan tetapi badan ini tdak mau digerakkan, sayup – sayup terdengan orang lagi mendikusikan puisi, dengan samar – samar sih  akau bisa simpulkan mereka bediskusi tentang kritik terhadap puisi…..

 

Bersambung……….

12 Mei 2012