Pasang Surut Perusahan Kereta Api di Sumbar Tahun 1963-2010

Beberapa dekade terakhir, perkembangan perkeretaapian di Indonesia secara umum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kemajuan itu terlihat dari modernisasi peralatan, fasilitas stasiun, fasilitas lokomotif dan gerbong, penggunaan kereta api sebagai transportasi massal, sampai yang terbaru saat ini diperkenalkan penggunaan tiket elektronik dan pembangunan jalur kereta api ganda ( double track ) serta rencana pembangunan mono rel untuk mengatasi kemacetan di ibukota. Namun kemajuan tersebut hanya terlihat di Pulau Jawa sedangkan di daerah lain seperti Sumatera Barat (Sumbar), kemajuan yang serupa masih belum terlihat. Perkeretaapian di Sumbar cendrung mengalami kemunduran dan jauh tertinggal dari Pulau Jawa. Kemunduran ini dimulai dari menurunnya peranan dan fungsinya sebagai alat transportasi. Kelayakan fasilitas masih banyak mengunakan warisan dari Belanda. Jalur yang beroperasi tidak berfungsi sebagai alat transportasi utama melainkan alternatif. Jalur kereta api menjadi alternatif karena tidak banyaknya jaringan kereta api yang beroperasi. Tercatat ada jaringan kota Padang- kota Pariaman, Padang Panjang-Bukittinggi, Bukitinggi-Payakumbuh, Padang Panjang-Solok, Solok Sawahlunto. Tingkat penguna transportsi perkeretapian menurun, karena masyarakat sudah praktis berfikir dan dinamis. Masyarakat berfikir kalau mengunakan kereta api biaya yang dikeluarkan lebih besar, tetapi mengunakan jenis transportasi lai seperti kendaraan lebih murah dan hemat waktu. Bila seseorang ingin mengunakan kereta api dia harus terlebih dahulu ke stasiun dan jarak antar stasiun pun juga jauh. Akibat dari jangkauan kereta api juga tidak seleluasa kendaraan bermotor. Faktor utama menurunnya fungsi ekonomi kereta api di Sumbar karena menurunnya batu bara. Ada beberapa faktor pendukung lain yang menentukan kemunduran kereta api di Sumbar antra lain kondisi geografis Sumbar yang terdiri dari jajaran perbukitan sehingga menyulitkan kelancaran dan ketepatan waktu kereta api sampai ke tempat tujuan. Persoalan Internal perusahaan pengelola juga mempengaruhi kemunduran perkeretaapiaan. Manajemen perusahaan tidak memikirkan cara untuk menyelamatkan kereta api, situasi ini masih terlihat sampai tahun 1992.[1] Menurunnya pengguna kereta api di Sumbar juga disebabkan oleh semakin berkembangnya kendaraan bermotor. Perkembangan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi sejak tahun 1950-an berdampak terhadap jenis transportasi lain sehingga mulai bermunculan Perusahaan- perusahaan bus antar kota. Nama-nama perusahaan bus yang ada antra lain PO APD, N.V NPM, N.V Himsar, PO TA, ME Agam, Flora, dan Plastic, PO Sago, PO GON Tercatat pada tahun 1952 ada sekitar 360 buah bus setiap hari keluar masuk teminal di Bukititnggi, atau ½jam sekali trayek Padang-Bukitinggi yang dilayanai 8 perusahaan. Trayek Bukittinggi-Payakumbuh setiap 30 menit dilayani 4 perusahaan. [2] Terhitung sejak tahun 1960-an jumlah kendaraan Bus 1000 unit dan truk 2.360 unit, maka pada tahun 1972 terjadi peningkatan Bus 1.858 dan Truk 3.332. Semakin banyaknya alternatif transportasi seakan-akan menengelamkan peranan kereta api. Pada saat itu perkembangan kendaraan bermotor meningkat tajam. Seiring bertambah banyaknya kendaraan bermotor membuat sempit ruang gerak kereta api sebagai angkutan sehingga perkeretaapian mengalami kemorosotan pengunaan, berkurangnya pendapatan perusahaan dan penurunan intensitas peranan kereta api di Sumbar.[3] Keberadaan perkeretaapian di Sumbar telah dimulai sejak zaman Belanda. Perusahaan pertama kereta api bernama Sumatra’s Staats Spoorwegen.[4] Pengadaan jaringan kereta api oleh Pemerintahan Kolonial Belanda erat kaitannya dengan penemuan sumber daya alam batu bara di Sawalunto pada tahun 1871.[5] Pada tahun 1864 sampai tahun 1943 perusahan kereta api dikelola oleh pemerintah Belanda dan Swasta. Kehadiran pertambangan mendorong pengadaan transportasi untuk mengangkut batu barat. Tahun 1943-1945 dikelola oleh Jepang. Pada masa pendudukan Jepang terjadi kemunduran pengguna. Pembangunan jaringan kereta api hanya untuk kepentingan perang bukan untuk mengembangkan perusahaan pengelola. Pada masa perang kemerdekaan, 1945-1950 kereta api terus mengalami kemunduran karena pemerintah masih disibukan oleh perang untuk mempertahankan kemerdekaan.[6] Pada tanggal 28 September 1945 pemerintah Indonesia mengambil alih perusahaaan kereta api milik swasta dan Belanda dinasionalisasikan pada tahun 1950-an.[7] Setelah tahun 1950-an, pengelolaan kereta api diambil alih oleh Pemerintahan Indonesia. Perkeretaapian dikelola oleh pemerintah melalui perusahan milik negara yang pada perjalanannya mengalami berbagai dinamika.[8] Aktivitas pelayanan kereta api di Sumbar pada akhir tahun 1950-an juga terganggu karena kondisi politik, sosial dan ekonomi bergejolak sejak adanya gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Penelitian tentang sejarah kereta api di Sumbar sebelumnya telah dilakukan antara lain oleh S. A. Reitsma, dengan judul De staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust (S.S.S.). Buku ini menjelaskan tentang pengadaan kereta api pada periode awal masa kolonial. Kronologis pengadaan kereta api dimulai dari pemilihan jalur kereta api dari daerah Sawalunto sebagai daerah penghasil batu bara. Pengadaan kereta api juga dilengkapi oleh fasilitas utama yaitu pelabuhan Teluk Bayur sebagai media pengangkutan baru bara ke luar negri. Selanjutnya pembahasan buku ini memfokuskan pada pengelolaah kereta api mulai dari perawatan, sistem manajemen sperti harga tiket, pendapatan dari tahun ke tahun.[9] Gusti Asnan dkk dalam laporan penelitian yang berjudul “Sejarah Transportasi: Involusi Peranan Kereta Api di Sumbar” mengemukakan bahwa dunia perkeretaapian di Sumbar dalam rentang tahun 1960-1970 mengalami penurunan atau involusi, padahal masa Pemerintahan Kolonial Belanda kereta api menjadi kendaraan utama penghubung antar daerah di Sumbar. Hal ini diakibatkan oleh faktor intenal kereta api itu sendiri seperti peralatan yang sudah tua yaitu buatan tahun 1900, sebagian peralatan rusak berat akibat taktik perang bumi hangus Jepang melawan sekutu, serta terbatasnya keahlian bangsa Indonesia untuk melakukan perawatan dan faktor eksternal seperti perkembangan kendaraan bermotor yang mengurangi pengunaan kereta api sebagai angkutan barang dan penumpang, dan penurunan komoditi batu–bara di Sawalunto yang semua mengandalkan transportasi kereta api.[10] Selain itu, Irwanto dalam tulisannya berjudul “Keberadaan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Di Sumbar Tahun 1964-1998”, yang juga menjelaskan peranan pengawasan DLLAJ terhadap lalu lintas kendaraan dan dalam skiripsi ini juga menginformasikan pengaruh perkembangan kendaraan bermotor terhadap merosotnya kereta api. Kemajuan pengunaan kendaraan bermotor berpengaruh pada pengunaan kereta api sebagai alat transpotasi. Rentang tahun ini juga mengalami masa suram bagi perkeretaapian di Sumbar.[11] Kemudian skripsi yang ditulis oleh Riswandi dengan judul “Kereta Api Angkutan Batu–Bara Di Sumbar Tahun 1977-1998” mengungkapkan peran penting kereta api sebagai alat pengangkutan batu bara dari Ombilin ke pelabuhan Teluk Bayur untuk dipasarkan ke luar negeri dan memaparkan peranan batu bara sebagai komodi utama untuk diangkut. Dalam skripsi ini juga diterangkan tentang pasang surut kereta api sebagai angkutan batu bara sejak tahun 1977 sampai tahun 1998. Kereta api di Sumbar di pergunakan untuk angkutan batu bara.[12] Kemudian Kiswati dalam skripsinya berjudul “Jalan Kereta Api Padang–Pariaman dan Perkembangannya (1950-1980)”. Kiswati mengemukakan perkembangan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman sejak tahun 1950-1980. Perkembangan jalan kereta api dan peningkatan fasilitas perkeretaapian, secara perhitungan ekonomi adalah menghemat biaya distribusi, efesiensi waktu dan tenaga.[13] Mengenai kereta api wisata di Sumbar diungkapkan dalam skripsi yang ditulis oleh Irfan berjudul “Kereta Api Wisata Di Sumbar 1992-2002” membahas perubahan kereta api yang dulunya sebagai angkutan umum menjadi kereta api sebagai alat transportasi untuk menunjang kegiatan pariwisata di Sumbar. Dalam hal ini peranan kereta api sebagai alat transportasi untuk menunjang kegiatan pariwisata walaupun demikian untuk mempertahankan kereta api oleh pihak pengelola, kereta pai terus mengalami kerugian dalam setiap pengoperasiannya.[14] [1]Irfan, “Kereta Api Wisata Di Sumatera Barat 1992 – 2002”. Skripsi (Padang : Fakultas Sastra Univ. Andalas, 2002), hlm. 1-3. [2] “Dirokteri perusahaan Bis Antar Provinsi”, laporan (Jakarta: Biro Pusat Statistik,1987) hlm. 25-38. [3] Asnan, Gusti (dkk), “Sejarah Transportasi : Involusi Peranan Kereta Api Di Sumatera Barat”, Laporan. (Padang : Fakultas Sastra, Pusat Penelitian Universitas Andalas, 1991), hlm. 22. [4]Freek Colombijn, Paco Paco Kota Padang: Sejarah Sebuah Kota Di Indonesia Pada Awal Abad Ke-20 dan Pengaturan Ruang Kota, (Yogyakarta : Ombak, 2006), hlm 179 [5]Gusti Asnan (dkk),Op.,Cit, hlm. 5 [6] Freek Colombinj, Op,.Cit, hlm, 181 [7]Freek Colombijn, Op,.Cit, hlm, 181 [8]Keputusan Presiden atau Kepres Nomor 39/1999, 1 Juni 1999 PERUMKA secara resmi berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) [9]S. A. Reitsma, De staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust (S.S.S.) (Den Haag : Moorman’s Periodieke Pers, 1943). [10]Gusti Asnan (dkk), “Sejarah Transportasi : Involusi Peranan Kereta Api Di Sumatera Barat”, Laporan (Padang : Fakultas Sastra, Pusat Penelitian Univ. Andalas, 1991) [11]Irwanto, “Keberadaan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLJ) di Sumatera Barat” Skripsi (Padang : Fakultas Sastra Univ. Andalas 2001). [12]Riswandi, “Kereta Api Angkutan Batu – Bara Di Sumbar Tahun 1977 – 1998”, Skripsi, (Padang : Fakultas Sastra Sejarah Unand, 2000) [13] Kiswati, “Jalan Kereta Api Padang – Pariaman dan Perkembangannya (1950 -1980)”, Skripsi (Padang : Fakultas Sastra Sejarah Unand, 1997) [14] Irfan, “Kereta Api Wisata Di Sumatera Barat 1992 – 2002,” Skripsi (Padang : Fakultas Sastra Sejarah Unand, 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s