sedikit refleksi ” kemana pemuda masa reformasi”

Kemana mahasiswa setelah reformasi adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab bersama. Mahasiswa sebagai control, agen perubahan, seakan – akan hanya tinggal symbol dan semboyang yang selalu diagung-agungkan. Mahasiswa sebagai sebuah kekuatan control politik sperti tertidur.

Gerakan organisasi kemahasiswaan masih memiliki legitimasi moral yang kuat. Sayangnya, meskipun harapan tinggi masih diletakkan ke pundak mahasiswa, ada kecenderungan gerakan politik mahasiswa kian melempem dalam menanggapi berbagai permasalahan riil bangsa saat ini. Mahasiswa lengah dengan kenyaman dan kemewahan.yang disuguhkan. Sudah 10 tahun lebih reformasi di negara ini berlangsung tapi belum terlihat kontribusi dari mahasiswa penerus cita- cita refermasi ini. Kondisi ini diperparah dengan fenomena aktivis kampus terlibat politik praktis, anarkisme, hedonism, “Autisme” dalam kampus. “mantan” aktivis tersandung berbagai kasus korupspi.

Kemurnian gerakan mahasiswa sering menjadi pertanyaan, apakah aktivitas di dalam gerakan organisasi mahasiswa murni didasarkan keinginan melakukan perubahan kondisi yang lebih baik, ataukah sekadar sebagai batu loncatan meraih kekuasaan politik. Menjadi aktivis kampus seperti telah menjadi ‘profesi’ kesenangan pribadi, bahkan hanya untuk memenuhi tuntutan kampus seperti mengejar sertifikat sebagai syarat wisuda. Di satu sisi publik percaya mereka memiliki idealisme dan komitmen membela rakyat, sehingga mampu memperbaiki sistem dari dalam. Namun di sisi lain, kondisi tersebut rawan godaan dan iming-iming materi yang mengaburkan komitmen awal untuk membangun dari dalam.

Gerakan mahasiswa masa kini pasif, karena manusianya sedang dibelenggu kenyamanan hidup untuk itu marilah kita kembalikan kemurniam gerakan mahasiswa sebagai kontol negara. Marilah kita hidupkan kembali gaung mahasiswa yang sekarang terdengar anarkisme, Kita mahasiswa adalah kekuatan penyeimbang kekuatan politik negara.

Fenomena “mantan” aktivis mahasiswa yang menjadi caleg pada Pemilu 2004 dan 2009 menjadi pisau bermata dua. Fenomena aktivis yang terlibat kasus korupsi di tahun 2012.

kurangnya menghargai bentuk pergerakan mahasiswa. Kita mahasiswa lupa akan cita cita reformasi, kita mahasiswa sibuk dengan mencari kesalahan kesalahan para pemimpim bangsa di masa lalu tanpa menberikan solusi yang jelas dan kongkrit. Reformasi ada dengan tumpah darah Mahasiswa yang menjadi tumbal sebuah pendombrakan, hanya sedikit yang kenal, hanya sedikit yang menghargai, hanya sedikit yang mengingat atau apalah sebutan mereka, Pengorbanan besar mereka tak mampu membangkitkan tidur panjang bangsa INDONESIA. Karena mereka yang telah bangkit dan berlari telah kembali ke kubur dan

Dengan adanya peristiwa itu maka menjamurlah organisasi-organisasi mahasiswa diluar organisasi yang ada di kampus. Organisasi mahasiswa luar kampus biasa disebut dengan organisasi ektra kampus. Organisasi yang lahir sejak 1998 maupun organisasi mahasiswa yang sejak lama ada kembali mengacungkan dan mengepalkan tangannya. Merambah dunia kampus membuat isu-isu ini itu Memecah belah INDONESIA yang sesungguhnya memang berbeda-beda adanya. Bukankah putra-putri INDONESIA telah mengikrarkan satu INDONESIA? perbedaan kepentingan, visi misi dan tujuan organisasi yang berbeda-beda maka tidak heran sering terjadi pertarungan kepentingan bahkan pertarungan fisik sering dilakoni juga. Kenapa ini mesti terus terjadi? Kenapa kita mengantikan Tuhan dengan dalih pembela Tuhan, apakah Tuhan perlu dibela? Kenapa kita berteriak lantang hingga memekikkan telinga “Diam!!!”. Hingga orang yang berbicara santun dan sopan itu takut hingga mereka tak berani lagi berkata. Kenapa kita memenjarakan kebebasan orang lain meskipun Tuhan menciptakan mereka dalam kebebasan bahkan Tuhan memberi kesempatan kepada mereka.kenapa kita mahasiswa hanya mementingkan kepentingan yang bias memecah bekah pergerakan kampus. INDONESIA sudah penuh dengan perbedaan hingga dicatat di pita lambang negara “Bhineka Tunggal Ika” jadi kenapa kita masih membuat perbedaan perbedaan lagi. INDONESIA merupakan bagian penting kampung kita, mau tidak mau itulah yang telah, sedang atau akan kita rasakan di era globalisasi dunia. Apakah kita rela menjadi gelandangan di negeri sendiri? Kita lupa dengan tanah air INDONESIA, malu dengan budaya INDONESIA, gengsi dengan bahasa INDONESIA, dan semua yang berbau INDONESIA.

Sudah saatnya kita menjadi mahasiswa INDONESIA. kita satukan niat tanpa ada yang mementingkan kepentiangan pribadi dan golongan.Di kampus pergerakan mahasiswa sudah terarah dan tertata dengan baik perjuangan kita para mahasiswa tidak hanya dalam kampus mari kita satukan ikuti pancasila ”walau pun kita berbeda dalam tetap satu yaitu indonesia”.  Perjuangan kita bangasa indonesia tidak terhenti karena perbedaan tapi perbedaan itu lah kita kuat.saya pernah mendengar beberapa orang  berkata” gunung itu kuat bukan karena batu atau kayu ataupun tanah tapi gunung itu kuat berdiri kokoh karena prcampuran unsur yang ada dibumi” dan begitu juga kita bangsa indonesia kuat bukan karena satu suku bangsa tapi kiata kuat setelah semua suku bangsa, unsur yang ada dalam masyarakat indonesia bersatu membangun negara ini.

WAHAI PEMUDA-PEMUDI, MAHASISWA MAHASISWI INDONESIA BANGUNLAH DARI TIDUR PANJANG INI…………..

MARI KITA BANGUN INDONESIA!!!!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s