Ujian Sejarah Politik

Partai Nasional Indonesia

 Partai nasional Indonesia adalah partai politik yang bersifat Nasional. Didirikan pada tahun 1927. Pemimpinnya adalah Ir. Soekarno, Iskak SH, Sartono SH dan lain-lain. Partai ini bertujuan Indonesia merdeka dengan tenaga rakyat sendiri, tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Tahun 1929 Ir. Soekarno ditangkap dan dipenjarakan di Bandung. Tahun 1931 partai ini dibubarkan. Tetapi atas prakarsa beberapa orang pemimpin didirikan partai baru yang bernama Pendidikan Nasional Indonesia atau disebut juga PNI baru. Pada tahun 1932 Sutan Syahrir pulang dari negeri Belanda. Beliau langsung memimpin partai ini. Setelah Ir. Soekarno keluar dari penjara dan Drs. Mohammad Hatta pulang dari negeri Belanda, kedua pemimpin ini memimpin PNI baru.[1] Read More

Advertisements

Masa Pemerintahan Orde Baru (Soeharto)

Abstrak

Pada tanggal 30 September 1965, Kaum Komunis telah melakukan pemberontakan pula dalam Negara Republik Indonesia, dengan predikat “Gerakan 30 September”. Pemberontakan PKI yang pertama ialah bulan September 1948, yang berpusat di Madiun di bawah pimpinan Muso. Dengan pemberontakan G-30-S/PKI 1965 itu, Republik Indonesia berada di dalam tiga bahaya, yang berintegrasi, yaitu: Pemberontakan G-30-S, Kekuasaan diktatuur Orla, Kehancuran ekonomi. Jenderal Soeharto telah memimpin bangsa dan Negara Republik Indonesia, berjuang melawan dan mengalahkan ketiga bahaya itu. Dengan perhitungan dan strategi yang matang di bawah petunjuk dan bimbingan Tuhan, bahaya-bahaya itu dapat dikalahkan dan diatasi satu-persatu. Pemberontakan G-30-S telah dikalahkan dengan berhasil dan kekuatan Komunis dihancurkan di Indonesia. Kehancuran ekonomi telah diatasi dengan jalan Rehabilitasi, stabilitasi dan pembangunan. Gerakan 30 September 1965 tidak berhasil mewujudkan cita-citanya, dalam rangka menghancurkan negara kesatuan Republik Indonesia. Dalam waktu relatif singkat maka dapat ditumpas oleh para tokoh-tokoh yang setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sesudah itu, pemerintah dan rakyat Indonesia bertekad melaksanakan suatu tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat berdasarkan Ideologi negara Pancasial dan Konstitusi (UUD 1945).

kata kunci

Soekarno, Orde Baru, Ideologi Pancasila, PKI, Angkatan 66, Kabinet 100 Menteri, Repelita, Mahasiswa, Kabinet Ampera, Nasakom, Gestapu. Read More

HISTORIOGRAFI ASIA TENGGARA

A.     Ilustrasi

Penulisan sejarah di setiap bagian negara sudah berlangsung cukup lama. Setiap negara memiliki bentuk dan cirri khas tersendiri dalam penulisan historiografinya, historiografi yang dibuat didasarkan pada perkembangan kebudayaan di masing-masing negara. Begitu pula dengan historiografi di negara-negara Asia Tenggara, penulisan sejarah mereka disesuaikan dengan perkembangan kebudayaan yang berlangsung dan perkembnagan historiografinya selalu berhubungan dengan dengan sumber-sumber kesusastraan (literary). Masing-masing kesusastraan yang dihasilkan oleh masing-masing negara di Asia Tenggara berbeda, sehingga berbeda pula hasil penulisan sejarahnya. Hal itu dikarenakan sumber yang digunakan dalam menulis sejarah juga berbeda dari masing-masing wilayah.

Di wilayah Asia Tenggara terdapat perbedaan dalam menanggapi tentang sejarah. Setiap wilayah mengembangkan historiografi berdasarkan periodesasi yang berkembang di wilayah-wilayah tersebut. Perkembangan penulisan sejarah di Asia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di negara-negara Eropa. Sebelum abad ke-XX sumber utama historiografi Asia Tenggara dapat dibagi menjadi daerah yang disesuaikan dengan agama. Misalnya saja, Agama Budha di Theravada di Muang Thai,Burma dan Sri Langka atau agama Islam Pakistan, India, masyarakat Islam di malaysia, Indonesia dan Filipina Selatan atau budaya tiongkok di Vietnam atau kristen di Fillipana. Hal tersebut pernah terjadi di Eropa ketika abad pertengahan yang mana agama memiliki peranan yang penting dalam penulisan sejarah.

 

B.     Ciri-Ciri Historiografi Tradisional di Asia Tenggara

Sepereti yang telah dijelaskan pada latar belakang, bahwa historiografi tradisional Asia Tenggara sebelum abad ke-XX masih dipengaruhi oleh agama. Berdasarkan agama itulah maka historiografi di Indonesia dapat dibedakan kedalam empat wilayah yang meiliki agama dan pengalaman baca tulis yang berbeda. Penggolongan ini digunakan untuk menjelaskan secara jelas mengani historiografi di Indonesia. Adapun keempat wiilayah Asia Tenggara tersebut adalah sebagai berikut;

 

1.      Pengaruh Agama Theravada di Muangthai dan Kamboja

Berkembangnya agama Budha Theravada ini semakin menggusur keberadaan Budha Mahayana dan Hindu yang sebelumnya banyak berkembang di Asia tenggara. Namun demikian agama Budha Mahayana dan hindu masih dianut oleh kaum elit di Asia Tenggara.

Setelah masuknya agama Theravada Sinhala membuat agama Budha Hinayyana yang sebelumnya dinut Kerajaan Pagan (pemerinthan Anawratalah) ulai tergantikan. Tepatnya pada masa pemerintahan raja naraphatisitu banyak kebudayaan dan karya sastra yang dibuat didasarkan pada ajaran agama Theravada. Misalnya pada abad ke-13 bangsa Mon menyusun sebuah kronik (Rajawan dan berbagai bentuk Genelogis) yang menetapkan suatu tradisi penggabungan data-data mengenai dinasti, anekdot mengenai raja-raja, serta berbagai mitos dan legenda yang memberikan arti pada setiap pemerintahan. Tradisi ini semakin diperkuat denagn pemasukan ksadaran kronologi yang lebih teliti dalam komposisi tulisan yang dibuat oleh bangsa Mon.

Salah satu kronik yang dibuat oleh orang-orang Burma adalah Yazawin (Kronik Burma) yang berasal dari abad ke-18 dan abad ke-19 yang merupakan:

a.       Tulisan asli Burma dengan animisme lokal dan konsep mengenai raja serta kosmologi Birma sendiri

b.      Karya ini disusun oleh para biarawan serta para brahmana terpelajar.

c.       Mengandung bahan-bahan berharga bagi tulisan-tulisan pertama dari orang-orang Eropa mengenai Burma.

Tradisi seperti ini juga berkembang di Muangthai atau Thailand. Tidak jauh berbeda perkembangan tradisi ini juga dibawa oleh para biarawan dan menteri yang terpelajar yang berasal dari Sri Langka, yang dimungkinkan berasal dari bangsa yang berbahasa Mon-Khmer yang tinggal dilembah sungai Menam.

 

2.      Pengaruh Islam di Indonesia, Malaysia dan Filipina Selatan

Hampir seluruh wilayah di Asia Tenggara mendapat pengaruh agama Hindu dan Budha yang berasal dari India. Namun dalam perkembangannya wilayah Indoneisa, Malaysia dan fillipina bagian selatan mendapat pengaruh dari agama Islam, yang kemudian membuat agama Hindu dan Budha kehilangan landasannya di tga daerah tersebut. Dalam awal penulisan sejarah tradisional di Indonesia agama Hindu dan budha memeganga peranan yang cukup penting.

Orang-orang Jawa bnayak meninggalakan monumen dan inskripsi-inskripsi yang bercorak Hindu-Budha. Tidak hanya berupa monumen, sajak-sajak epik seperti Negarakertagama, Pararaton, Babad tanah Jawi      (abad 14-17), pemujaan pujangga-pujangga keraton terhadap raja, penyusunan geneologi, serta penyempurnaan sajak-sajak. Orang Jawa dan melayu memiliki kesadaran kontinuitas, keinginan untuk meneruskan kekuasaan yang sah dan kedaulatan tokoh dimasa lampau dengan asal-usul sejarah mereka., selalu dipertahankan hingga berabad-abad. Hal tersebut menyebabkan ketidakadanya ketep[atan kronologis.

Tulisan-tulisan dalam bahasa melayu lebih berkembang sebagai sejarah, misalnya saja Kitab Sejarah Melayu yang berisi tentang Kerjaan Johor dan Riaulingga. Selain itu juga kronik bersajak seperti Sha’ir Perang Mekasar. Tulisan-tulisan dalam bahasa melayu ini merupakan uraian mengenai dan tempat hidup, namun belum terdapat kronologis, walaupun deikian lukisan mengenai hubungan antara tokoh lebih tepat. Tidak banyak tulisan yang berbau mitos dan lebih banyakl terkandung unsur nilai-nilai tentang kepatuhandan kejujuran. Selain digunakan untuk mendidik juga digunakan untuk menghibur. Contoh yang menonjol dalam sejarah melayu adalah tentang sejarah sosial” Misa Melayu, Hikayat Abdullah dan Tuhfal-ul Nafls (abad 18-19).

 

3.      Pengaruh Agam dan Budaya Cina di Vietnam

Vietnam bagian Utara adalah salah satu daerah jajahan atau fasal Cina. Selama pendudukan Cina di Vietnam Utara banyak pengaruh yang diberikan Cina terhadap Vietnam. Seperti daerah jajahannya Cina lainnya (Korea dan Jepang), Cina juga menanamkan kebudayaan yang mereka miliki kedaerah fasal mereka. Penjajahan Cina itu membuat berhasil menentukan sifat dan historiografi di Vietnam Utara. Karya-karya tradisional seperti Cina masih ada sampai abad ke 19 dan ke 20.

Setelah Vietnam melepaskan diri dari penguasaan Cina, Vietnam masih memegang peradapan Cina yang telah ditanamkan sebelumnya. Agama Theravada yang berhasil menaklukkan sebagian Indocina atau Asia Tenggara Kontinental tidak serta-merta membuat keyakinan bangsa Vietnam beralih agama. Sehingga Vietnam tidak terpengaruh dan tetap menganut agama Budha Mahayana dari alirn di Cina. Sehingga karya-karya yang dihasilkan di vietnam jauh berbeda dengan negara Indocina lainnya yang terpengaruh oleh agama Theravada.

 

C.     Historiografi Asia Tenggara Modern

Historiografi Modern tumbuh dan telah berkembang di Eropa jauh sebelum di perkembangan historiografi di Asia Tenggara. Historiografi modern baru berkembang di Asia Tenggara pada pertenaghan abad ke-19, setelah ilmu pengetahuan dan kebudayaan barat mulai masuk di kawasan Asia Tenggara. Karena pendudukan orang eropa yang tidak menyeluruh sehngga tidak memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan secara menyeluruh, sehingga tidak memungkinkan untuk mengembangkan historiografi modern. Pada abad ke-16 sampai ke-19 kebnyakkan hasil tulisan sejarah banyak ditulis oleh orang-orang Eropa. Penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang Eropa belum dapat mempengaruhi bentuk historiografi di Asia Tenggara. Berikut adalah beberapa contoh historiografi modern di Asia tenggara:

Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan bangsa-bangsa di Asia Tenggara merdeka, mereka mulai mengambil langkah-langkah baru dalam historiografi, antara laiin:

1.      Diterbitkannya buku DGE Hall mengenai sejarah Asia tenggata tahun 1955 semakin menyadarkan bangsa-bangsa di Asia Tenggara perkembangan sejarah dari kuno hingga modern merupakan unit sejarah yang lengkap.

2.      Hasil penelitian J.C. Van Leur merangsang timbulnya sejumlah karangan mengenai historiografi Indonesa yang dicetuskan dalam seminar nasional I tahun 1957.

3.      Usaha membentuk pertemuan Internasional Association of Historians of Asia, yang melakukan kongres tiga atau empat tahun sekali.

 

D.    Ciri-ciri Historiografi Modern Asia Tenggara

Di kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia, Burma, Malaysia dan filipina, historiografi modern sedang dikonfrontasikan dengan nasionalisme. Seperti terlihat dalam bentuk penulisan sejarah pasca proklamasi, kebanyakkan tulisan dibuat guna membangkitkan semangat nasional untuk melawan penjajahan Belanda. Untuk menunjukkan bahwa bangsa Belanda itu sebagia bangsa yang jahat dan selalu merugikan bangsa Indonesia. Sehingga penulisan sejarah pada masa ini banyak terdapat mengenai tokoh-tokoh besar, seperti Pangeran Diponegoro, dan lain sebagainya.

Pada sejarah modern di Asia Tenggara masih mengutamakan sejarah Nasional dibandingkan dengan sejarah ilmiah. Namun dalam perkembangannya sekarang ini para sejarawan sudah mulai banyak menggun akan metode-metode dalam penulisan sejarah.  

Historiografi di Asia Tenggara pada mulanya banyak dipengaruhi oleh agama. Agama membawa bentuk penulisan sejarah yang berbeda. Hal ini menunukkan bahwa historiografi selalu bergerak dan disesuaikan dengan kebudayaan yang ebrlangsung disuatu bangsa. Untuk menumbuhkan bentuk sejarah modern di negara-negara Asia Tenggara cukuplah sulit. Beberapa faktornya adalah kurang meratanya penyebaran ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh orang-orang Eropa.

Namun semakinaju pola fikir dan kebudayaan masyarakat di Asia Tenggara membuat historiografi juga mengalami perkembangan yang pesat. Setelah Perang Dunia II dan setelah bangsa-bangsa di Asia Tenggara merdeka, mulai menyadari bahwa penulisan sejarah modern itu penting. Di Indonesia historiografi modern dibahas dalam seminar nasional pertama di Yogyakarta pada tahun 1957.

DAFTAR PUSTAKA

Anggar Kaswani. 1998. Metodologi Sejarah dan Historiografi. Yogyakarta: Beta offset.

Danar Widiyanto. 2002. Perkembangan Historiografi: Tinjauan Di Berbagai Wilayah Dunia. Yogyakarta: UNY

D. G. E. Hall. 1968. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional.

Sartono Kartodirjo. 1982. Pemikiran dan perkembangan historiografi Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Taufik Abdullah & Abdurrachman Suryomiharjo. 1985.  Ilmu Sejarah dan Historiografi:Arah dan Perspekti: Gramediaf. Jakarta

Toynbee. Arnold. 2006. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analitis, Kronologis, Naratf dan Komparatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Historiografi Asia Tenggara (Wikipedia) diunduh pada hari Senin, 2 Mei pada pukul 23.43 WIB. Dari  http://defie88.multiply.com/journal/item/2. 

Eksistensi Manusia

Siapa kamu? apa untungnya saya menghargai kamu? Bukankan aku lebih tua dari kamu? Bukankah aku lebih hebat dari kamu? Bukankah kamu pernah hutang budi dengan aku? kalimat ini bagian dari kehidupan sehari – hari kita sebagai manusia, kita mungkin pernah mendengar atau mungkin saja pernah terbesit dalam hati atau pernah terlontar. Sadar atau tidak ketika kita berfikir seperti itu kita telah merusak bagian terkecil dari hubungan horizontal sesama manusia yang berakibat fatal. Pikiran ini adalah penyakit hati yang sulit untuk disembuhkan.

Dalam hidup ini memang manusia perlu dihargai eksistensinya sebagai bagian dari kelompok, organisasi, maupun lingkungan tempat tinggal mereka. Mau tidak mau, suka tidak suka pengakuan seseorang dalam lingkungan perlu didapatkan bisa dengan berbagai cara antara lain penghargaan, mengaharagai seseorang merupakan bentuk lain dari pengakuan seseorang terhadap orang lain. Ketika pengakuan tidak didapatkan maka akan terjadi pemberontakan dan sikap egois yang membuat kita tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain. Pengakuan eksistensi sebagai manusia dalam lingkungan dapat hilang akibat tingkah laku manusia itu sendiri, makanya perlu saling menghargai. Menghargai orang lain yang sedang berbicara. Berbicara dengan tutur yang enak, jangan setiap kata – kata yang keluar dari mulut kita membuat orang lain sakit hati, jika hati telah tersakiti apaun yang orang lain lakukan akan terlihat buruk dimata orang yang disakiti akhirnya mengganggu hubungan sosial kita sebagai manusia. “JIKA KATA – KATA YANG ANDA KELUARKAN ITU ADALAH RACUN LEBIH BAIK ANDA TELAN TERLEBIH DAHULU SEHINGGA TIDAK MEMBUNUH ORANG DISEKITAR ANDA DAN TIDAK MENJADI BUMERANG TERHADAP ANDA”

Sejatinya ketika anda menghargai orang lain berarti anda menghargai diri anda sendiri, maka dari itu hargai orang lain tapi jangan terlihat kaku, apapun bentuk penghargaan merupakan pengakuan diri sebagai manusia.Gambar

Bibliografi

Sejarah Mahasiswa

Kegagalan Tuntutan CGMI Untuk Pembubaran HMI Tahun 1965

Api sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara,  Penerbit Salamadani, 2009

Consentrasi gerakan mahasiswa indonesia atau yang lebih dikenal dengan CGMI, antara tahun 1960 – 1965 adalah gerakan mahasiswa dibawah naungan partai komunsi Indonesia atau PKI. Pada tanggal28 Septermber 1965 melakukan Kongres yang dihadiri oleh Presiden Soekarno, Wakil perdana menteri Dr. Leimenna, mentri penerangan Achamdi.

Suasa sana pana terasa dalam kongres ini setelah wakil perdana mentei Dr. Leimena memberikan sambutan. Dalamsambutan ini, dia mengatakan bahwa tidak akan ada pembubaran organisasi HMI atau Himpuna Mahasiswa Islam yang jelas dan terang – teranga menyatakan dukunga terhadan Front anti komunid yang berarti menentang NASAKOM. Dalam penyataaanya Dr. Leimena mengatakan baha HMI adalah organisasi yang Nasinalistik, patriotik dan loyal terhadap pemerintah.

D.N Aidit selaku ketua CCPKI dlam sambutannya menyindir Presiden dengan mengatakan pemimpin palsu. Walau PKI berhasil dalam merangkul Soekarno bukan menjamin tuntutan itu mulus. Kegagalan tuntutan ini disebabkan dalam analisa saya sendiri disebabakan sebagai berikut :

Pada masa ini terjadi persaingan idieologi antara islam dan komunis. Walau Soekarno cendrung kepada PKI, Soekarno tetap memperhitungkan kekuatan Islam yang sebagai pengalamannya itu bagaiamana kekuatan Partai Masjumi sebagai partai Islam dapat menyaing PNI sebagai Soekarno hal in yang menjadi perhitungan.

Antara dua kekautan mahasiswa ini merupakan power balance  terhadap kekeutan politik para elite  partai. Ibarat dua pilar yang salaing mendung. Soekarno memandan ini sebagai kekeuatan penyeimbang terhadap kekuatan lain. Kalau di bubarkan akan terjadi kepincangan sehingga pergerkan mahasiswa aka jalan ditempat dan proses kepemimpin negara ini tak akan berlanjut.

Dengan situasi negara yang baru berdiri, pembubaran ini akan memeudahklan perpecahan didalangan bangsa ini. Sebagai muslim terbesar pembubaran HMI akan berdampak besar terhadap integrits bangsa.

Soekarno sangat apresiasi sekali terhadap anak muda sehingga pembubaran HMI akan menhilankan semangat juang para generasi muda karena Soekarno pernah mengatakan : “kumpulkan aku sepuluh orang pemuda maka akan akau goncang dunia”

Sejarah Islam

Politik Islam Kolonial Belanda 1870 – 1904

Sumanto H. Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1986

             Dalam buku “Politik Islam Hindia Belanda” karangan H. Aqib Sumanto ini membahas persoalan mengenai bagaimana peranan Islam dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan daerah jajahan dan berupaya agar dapat menarik perhatian dan mempengaruhi masyarakat pribumi.

Buku ini membahas beberapa pokok yang penting diantaranya:

  1. Usaha Snouck Hurgronje untuk membuat suatu sistem  baru yang lebih mementingkan dan sedikit menghargai Islam
  2. Adanya Pan Islam yang mulai ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda dan diangap sebagai ancaman besar kedudukan Belanda di Indonesia
  3. Ada kantor organisasi Belanda Het kantoor voor Inlandsche zaken yang berfungsi sebagai lembaga atau kantor pemerintah pada umumnya tetapi kantor ini bertugas lebih kepada upaya pertahanan kedudukan Belanda.

Snouck Hurgronje (SH) Arsitek Politik Islam Hindia Belanda, Dasar pemikiran SH :

  1. Musuh Kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik
  2. SH membedakan Islam dalam artu “ibadah” dengan Islam dalam arti “kekuatan sosial politik”. Dengan membagi masalah Islam atas tiga katagori : 1. Bidang agama murni atau ibadah; 2. Bidang sosial kemasyarakatan dan 3. Bidang politik; dimana masing-masing bidang menuntut alternatif pemecahan masalah yang berbeda. Resep inilah yang kemudian dikenal sebagai Islam Politiek, atau kebijaksanaan pemerintahan kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia.
  3. Politik Islam yang menurut SH yaitu 1. Terhadap dogma dan perintah hukum yang murni agama, hendaknya pemerintah bersikap netral. 2. Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalam Islam, menuntut penghormatan. 3. Tiada satupun bentuk Pan Islam boleh diterima oleh kekuasaan Eropa.
  4. Prinsip politik Islam SH di bidang kemasyarakatan adalah menggalakan pribumi agar menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda demi kelestarian penjajahannya. Ini dikenal dengan Asosiasi Kebudayaan ( Istilah Asosiasi mengandung maksud mengikat daerah jajahan dengan negeri penjajah) . SH adalah seorang yang mendambakan kesatuan antara Indonesia dan Belanda dalam satu ikatan Belanda Raya.
  5. Dalam rangka menerapkan politik asosiasi SH memprakarsai pendidikan anak-anak bangsawan. Pada tahun 1890 ia memperoleh murid pertama Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat (Hoesein Djajadiningrat) (lahir 1877), anak Bupati Serang yang dengan susah payah berhasil ditempatkan di sekolah Belanda (ELS dan HBS) setelah diubah namanya menjadi Willem van Banten .
  6. SH optimis bahwa Islam tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan Barat. Agama islam dinilai sebagai beku dan penghalang kemajuan, sehingga harus di imbangi dengan meningkatkan taraf kemajuan pribumi. Maka pendidikan Barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia
  7. Tentang Mukimin Haji dan Kota Makkah, SH menyimpulkan, “ di kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darahsegar ke seluruh tubuh penduduk muslimin di Indonesia”. Usulan SH kepada para pejabat kolonial, yakni dengan cara mengalirkan semangat pribumi ke arah lain. “ Setiap langkah pribumi menuju kebudayaan kita, berarti menjauhkan dari keinginan untuk naik haji” .

 Sejarah Intelektual 

Pemikiran HAMKA Tentang Pendidikan Islam, Seabad Buya Hamka, Pengantar Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A

Memperbincangkan Dinamika Intelektual Dan Pamikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam 1908 – 1981

Karya Prof. Dr. H. Samsul Nizal, M. Ag Fajar  Penerbit Kencana Prenanda Media Grub; Jakarata, 2008

 HAMKA ( 1908 – 1981) adalah Haji Abdul Malik Karim Aarullah lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ia adalah seorang ulama, aktivis, jurnalistis, editor, dan sastrawan. Beliau mengembangkan pola pendidikan islam. Pendidikan islam yang beliau sesuai dengan aka yang menjadi keyakina beliaua baham aka nada kemabalai kebangkitan islam.

Tujuan pendidikan islam yang dikembangka oleh HAMKA adalah meningkatlan kembali esensi dan hakikat manusia itu sendiri. Dengan tujuan itu manusia lebih dianasi, trarah, dan bermakna sehingga tugas manusia sebagai hamba ALLAH yang untuk beribadah dan menjadi khalifah dimuka bumi tercapai. Tanpa tujuan ini tujuan manusa akan kabur dan terombang – ambing dalam kehidupan dunia yang fana ini.

Secara filosofis pendidikan islam bertujuan untuk membentuk manusa tang paripurna. Setudaknya ada 2 dimensi dari pendidikan islam pertama, dimensi dialetika horizontal, Kedua, dimensi tunduk kepada Allah,

Pada dimensi pertama pendidika hendaknya mengembangkan pemahaman tentang kehidupan konkret dalam kontek dirinya, sesaman manusia, dan alam semesta. Akumulasi pen berbagai pengetahuan. Dalam pandangan HAMKA pendidikan Islam adalah mencari keridhoan Allah, membangun budi pekerti luhur, dan mempersiapkan peserta pendidik untuk hidup secara layak dan berguna dalam komunitas masyarakat social. Tujuan pendidikan berorientasi pada traninternalisasi yang membentuk manusia yang berkualitas  dan mengenal khalik – Nya serta mampu hidup berdampingan dengan alam semesta.

System pendidikan yang ditawarkan adalah ilmu yang dituntut dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari – hari. HHAMKA ini mengharmonisasikan pendidika tradisional dengan pendidikan Modern sehingga peserta didik dapat mengusai ilmu secara proposional.

Materi pendidikan Islam yang ditawarkan adalah

  1. Ilmu Agama antara lain tauhid, tafsi, nahu, hadis, bayan mantiq dan ilmu agama lainnya. Merukana suatu kemestian dalam pendidikan yang ditawarkan oleh Hamka. Penekan bukan hanya sebatas mengajar tapi sebagai mengajar.dinamika ini akan menghasilkan para pendidik dan peserta pendidikyang mampu membangun perdaban Islam dimasa depan.
  2. Ilmu – ilmu umun  antara lain filsafat, sastra, ilmu alam social, ilmu hitung dan lainnya. Yang mempersiapakn genarasi yang mampu peduli terhadap kehidupan social yang demikian dinamis. Agar peserta pendidik memeliki alat konterol dana mengaplikasikan ilmu dan terlebih dahulu diformat denga nilai esesnsial keagamaan.
  3. Keterampilan praktis seperti memenah, berkuda, renang,  senhingga membuat fisik peserta didik kuat dan tidak mudah terserang penyakit, dapat juga untuk perdiapsan bela diri dan pertahanan. Sehingga menghasilkan peserta didik yang kreatif.
  4. Kesenian seperti music mengambar nyanyi agar peserta didik memiliki rasa keindahan selalau senatiasa memperhalus seni bahasa, etika, dengan kebenaran.

Sejarah Pertanian

Kegagalan Penerapan Tanam Paksa Kopi Di Sumatera Barat 1870 – 1908

Karangan M.D Mansur, Sedjarah Minangkabau,  Penerbit Bathara, Jakarta, 1968

Sejak awal kedatangan bangsa Barat yang mengidentifikasi diri sebagai pedagang sampai masa-masa ketika Barat identik dengan kekuasaan kolonial dan pemilik modal, perkebunan menjadi salah satu fakta atau variabel yang tidak bisa diabaikan untuk merekonstruksi dan menjelaskan realitas masa lalu yang ada.

Sumatera barat tidak luput dari pelaksanaan tanak paksa kopi yang dimulai dari tahun 1870 sama halnya yang terjadi di jawa. Tetapi di sumatera barat terjadi kegagalan yang membuat Belanda merasa merugi. Ada beberapa hal yang membuat kegagalan dalam pennerapan tanam paksa kopi di sumatra barat :

  1. Masyarakat minangkabau yang tidak mau memejual hasil panen kopi secara keseluruhan kepada belanda. Pada saat itu terjadi penjualan kopi ke pantai timur sumatera yang dibli oleh Bangsa asing antara lain Inggris, amerika Serikat. Hal ini membuar belanda merasa dirugikan.
  2. Kondisi grografis di sumatera

Secara geografis pulau sumatera memilki perbukitan. Perbukitan ini membentang dari ujung sumatera yaitu Aceh dan Lampung yang sering disebut Bukit barisan. Bukit barisan yang ada di dataran tinggi mempunyai hutan tropis serta curah  hujan yang tinggi. Dengan curah hujan yang tinggi , hutan banyak mengandung air tanah. Ketersediaan air tanah yang cuckup berkembanglah sister petunia yang kooh dan terstruktur dengan rapi.

Dengan struktur tanah seperti ini membuat kopi sulit untuk tumbuh sehingga kerugian ditanggung Belanda.

  1. Belanda belum menguasai secara keseluruhan wilayah pedalaman sumatera barat. Dalam hal ini belanda mengunakan hak – hak kekeuasaan penghulu untuk memungut hasil kopi. Belanda menganggap sistem penghulu ini sama hal nya sistem feodal yang ada di pulau Jawa. Selain itu ada semacam sabotase oleh masyarakat yang daerahnya kutarang subur untuk menjaul ke Bansa lain selain belanda.
  2. Namun, ketidakefisienan yang terjadi di tubuhnya membuat VOC mengalami kemunduran, sampai-sampai posnya di pantai barat Sumatera kemudian dicap verliestpost (pos yang selalu merugi). Pada saat yang sama, para pedagang Inggris mulai melakukan penetrasi di PadangSementara itu, untuk meraup keuntungan lebih banyak, Pemerintah Hindia Belanda menggunakan Nederlands Handel Maatschappij (NHM) sebagai kepanjangan tangannya dalam menguasai aktivitas ekspor impor di pantai barat Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda juga menerapkan sistem Tanam Paksa Kopi pada 1847. Setelah memberikan keuntungan, kedua cara ini akhirnya mengalami kegagalan total sekitar tahun 1860 karena penolakan keras dari penduduk serta wabah hemilia vestarix yang menyerang perkebunan kopi.

 

 Sejarah Maritim

Masyarakat Pesisir Dan VOC

Amran, Rusli, Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang, Sinar Harapan, 1981

Pantai barat Sumatera yang dimaksudkannya adalah satu kesatuan daerah administratif yang membentang dari Indrapura di selatan hingga Singkel di utara, sesuai dengan yang ditegaskan dalam Besluit van de Hooge Regeering tertanggal 20 Desember 1825. Dalam bibliografi kolonial, kawasan ini disebut Sumatra’s Westkust. Pada abad ke-16 hingga ke-20 Masehi, kawasan pantai barat Sumatera menjadi jalur perdagangan internasional. Seperti dicatat Gusti Asnan dalam buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), masyarakat di pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia itu berhubungan dengan beberapa negara, seperti Belanda, Portugis, Inggris, China, dan India.

Kota Barus, Singkil, dan Kota Natal merupakan titik-titik pusaran peradaban, termasuk pusat penyebaran agama Islam dan Buddha pada masa itu. Posisi di muara sungai membuat kota-kota ini menjadi pintu masuk yang strategis bagi dunia.

Perang bayang dan perang antara daerah pesisir pantai memicu pergolakan lain di pesisir barat sumatera muli dari tiku, pariaman, padang bandar X ikut mrlibatkan diri dalam peprangan saudara, prang melawan aceh, dan terakhir perang melawan VOC. pantai barat Sumatera bersih dari aksi resistensi. Di kawasan Samudra Hindia, Belanda sangat terganggu oleh para bajak laut yang diduga berasal dari Aceh. Beberapa kelompok bajak laut amat terkenal dengan tokoh-tokohnya yang legendaris, seperti Panglima Mentawe, Sidi Mara, Po Id, dan Nja’ Pakir. Untuk menumpasnya, Pemerintah Hindia Belanda membuat pos-pos pengamanan di beberapa kota pantai dan juga mengirim ekspedisi militer.

Ini adalah gambara secara laten bagaiman kehidupan masyaratk pesisir pantai barat sumatera yang notabenenya para pedagang dan nelayan. Kehidupan nealyang di pantai bara sumatera banyak memilik penjadi pedagan dari pada nelayan. Pda masa ini sistem perdagana melibatkan mereka untuk terjun dan lebih mengiurkan dari pada melaut atau mejadi nelayan. Merka lebih suka menjadi anak buah kapal, pedagan perantara di pantai, para kuli angkut. masyarakat pelabuhan, perdagangan internasional, dan pelayaran antarnegara akan bermanfaat untuk menyusun kebijakan. Dengan memakai studi tersebut, pemerintah dapat mendayagunakan kawasan pantai dan selat dengan maksimal sehingga masyarakat pantai yang selama ini dikenal sangat miskin bisa ditingkatkan kesejahteraannya. Dua abad yang lalu masyarakat pesisir pantai adalah masyarakat yang makmur dan sejahtera. Benda perdagangkan yang menjadi primadona adalah lada dan emas.

Ada beberapa hal yang perlu catatan dalam kajian ini :

  1. Tidak ada catatan menonjolkan pern nelayan dalam masyrakat pesisir barat sumatera pada abad ke 17
  2. Masyrakat pesisir pantai barat sumatera lebih suka menjadi pedagang lada dan emas ketimbang mennjadi nelayan
  3. Kesibukan peang antar bandar dagang, perang saudara, perang melawau dominasi kerajaan aceh, dan melawan VOC dalam perang Pajak menyebakan fokus perlatian masyarakat pesisir lebih menutamakan perdaganan.
  4. Penerapan sistim pajak dan tanam paksa kopi menyebabkan masyarakat hanya memikirkan  bagaiman memenuhi kewajiban tanam pkasa kopi yang dibbebnkan keda mereka.

Laporan Sejarah Pariwisata

 Studi Kasus ; Melacak Pariwisata Berbasis Sejarah Di Kota Sawalunto

Oleh

Aulia Rahman

0810712020

  1. A.    Awal Kemunculan kota Sawahlunto dari Kota Tambang Menjadi Kota Wiasata Tambang

Pada tahun 1891, Sungai Durian menjadi titik tolak dimulai pertambangan batu bara di Kota Sawalunto. Kemudian berkembang ke daerah Sawah Rasau, Waringin dan Lembah Soegar.

Batu bara merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak didapat diperbaharui sehingga pertambangan batu bara kota Sawahlunto habis karena ekspoitasi besar –besaran batu bara akan habis. Ada ahli Belanda mengatakan bahwa suatu saat Kota Sawalunto akan menjadi kota mati jika bergantung pada pertambangan batu bara. Ada tiga pilar penting yang menyangkut pertambangan di Sawalunto

  1. Kota Sawalunto
  2. Pelabuhan Teluk Bayur
  3. Pertambangan Batu Bara

Jika salah satu dari ini mati atau tidak berfungsi sebagai pendunkung ekonomi maka kejadinnya adalah matinya Kota Sawahlunto. Hal ini terbukti ketika pada awal 2000 – an. Kota Sawahlunto menjadi mati. Sehingga berfikir dan duduk bersama antara segala unsur yang ada mulai dari pemerintah, penghulu, cadiak pandai, cendiakiawan, dan orang tua – tua memikirkan Sawahlunto kedepan.

Pada tahun 2001 keluarlah sebuah Perda yang menjadikan Kota saawahlunto menjadi Kota wisata tambang. Secara hiralki Perda ini harus dijalankan oleh segala unsur yang ada di Kota Sawahlunto. Selain itu dukungan dari pemerintah sendiri sangat maksimal dalam menjadikan Kota Sawahlunto menjadi kota wisata tambang[1].

  1. B.     Kebijakan Untuk Kota Wisata Tambang

Kebijakan PERDA VISI KOTA  MENJADIKA KOTA WISATA TAMBANG yang mengatur :

  1. Revitalisme bangunan dan kota tua bekerjasama dengan Malaka
  2. Peranan Pemerintah dalam pendanaan untuk membangun Kota Sawahlunto
  3. Memfasilitasi sampai saat ini pemerintah menjadi aktor utama dalam pengelolaan Kota Sawahlunto sebagai Kota wisata.

Untuk menjadikan Kota Sawahlunto menjadi Kota Wisata. Pemerintah menjalin kerja sama dengan Balai Pengkajian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang. Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata Jakarta Dan Pelestarian Bangunan Kota Tua Malaka, Malaysia untuk mengembangkan kota Sawahlunto. Selain itu Kota Sawahlunto adalah salah satu Kota yang ada di Indonesia yang telah mempunyai undang – undang yang mengatur tentang peninggalan sejarah dan arkeologi.

  1. C.    Keunikan Kota Sawalunto

Kota sawalunto merupakan salah satu Kota desa dalam konsep sejarah perKotaan. Secara konsep Kota sawalunto tergolong desa yang penduduknya tidak mencukupi untuk dijadikan sebuah Kota tapi dari sisi lain Kota sawahluntu memiliki multi kultural etnis. Antara lain Minang, Batak, Jawa, Sunda, Bugis dan Ambon yang berasal dari para kuli kontrak didatangkan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Agama yang juga beragam Islam dan Kristen. Adabeberapa keunikan Kota Sawahlunto :

  1. Multi kultural etnis dan agama sehingga mereka sangat menghargai perbedaan
  2. Mempunyai bahasa kreol  atau bahasa tansi. Tansi disini bukanlah penjara akan tetapi tansi disini adalah blok – blok perumahan buruh kontrak, akan tetapi pada hakikatnya sama dengan penjara yang bergaul dengan orang – orang sekitar blok perumahan.
  3. Konsep tungga sakapal yaitu mereka yang merasakan hidup yang sama selama perjalanan dikapal sampai ke Kota Sawalunto. Mereka yang tungga sekapal sudah menjadi saudara walaupun tidak ada pertaloan darah, tidak boleh menikan sesama tingga sekapal.
  4. D.    Melayat ke Gudang Ransoem

Museum gudang ransoem dahulu merupakan dapar umum yang dibangun oleh Pemerintahan Belanda pada tahun 1918 untuk mensuplai makanan bagi para pekerja tambang baru bara dan pasien rumah sakit.

Sebuah perestasi dan kebanggan dimana memanfaatkan teknologi untuk memasak dalam skala banyak sejak awal abad ke – 20 bahkan pertama di Indonesia. Peralatan masak yang umurnya 100 tahun lebih. Hal ini terlihat bagaiman Belanda mengekploitasi tenaga anak – anak untuk memasak, proses pembagian makan antara buruk yang sering terjadi perkelahian yang perampasan antara pada pekerja dengan petugas dapur umum hal ini sering terjadi antara pekerja dengan suku bugis dan batak karena sama suku yang berwatak keras[2].

  1. E.     Kekejaman Belanda di Lubang Tambang Mbah Soero

Lubang tambang soegar mempekerjakan orang – orang hukuman yang dikenal dengan “ orang rantai. Disini bertugas seorang mandor yang bernama Soero, seorang pekerja keras, tegas, dan taat menjalankan agama sehingga ia disegani oleh para buruh dan orang sekitar tambang batu bara[3].

Dilubang ini banyak kejadian yang menyedihkan dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang – orang yang dikampung halaman mereka sangat gigih menentang belanda tetapi dihukum dan dipropagandakan oleh Belanda sebagai orang yang suka merampok, membunuh, menculik sehingga masyarakat takut kalau orang rantai ini keluar dari lubang. Rantai ini saling terikat satu sama lain. Berai bola rantai mulai dari 5 sampai dengan 10 kg per orang sehingga kecil kemungkinan untuk lari karena beban yang di bawa oleh orang rantai. Untuk mereka yang telah sakit atau memiliki penyakit mereka aka dibuang ke lubang tumbal bukan diobati[4].

Melihat tingginya nilai sejarah maka pada tahun 2007 lubang ini dibuka untuk wisata sejarah  untuk melihat kekejaman belanda terhadap orang rantai yang akhirnya berjasa untuk pembangunan kota Sawahlunto sampai sekarang, semoga arwah para pendiri bangsa, orang yang berjasa, orang yang berjuang untuk Agama, Bangsa dan Negara ini mendapatkan tempat yang layak disisi Allah SWT. Amin………


[1] Pemaparan Pegawai Gudang ransoem

[2] Dinas pariwisata dan kebudayaan kota sawahlunto

[3] Brosur objek wisata lobang tambang Mbah Soero

[4] Pemapandan Gigde pak win

Persamaan dan perbedaan antara Museum, Kearsipan dan Keperpustakaan.

Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2009 mengenai Kearsipan, beberapa pengertian mengenai arsip dan kearsipan telah terangkum di dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1. Berikut ini pengertian arsip dan kearsipan menurut UU No. 43 Tahun 2009:

  1. Kearsipan adalah hal-hal yang berkenaan dengan arsip.
  2. Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  3. Arsip dinamis adalah arsip yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pencipta arsip dan disimpan selama jangka waktu tertentu.
  4. Arsip vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan apabila rusak atau hilang.
  5. Arsip aktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus menerus.
  6. Arsip inaktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun.
  7. Arsip statis adalah arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan, telah habis retensinya, dan berketerangan dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan.
  8. Arsip terjaga adalah arsip negara yang berkaitan dengan keberadaan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara yang harus dijaga keutuhan, keamanan, dan keselamatannya.

Arsip umum adalah arsip yang tidak termasuk dalam kategori arsip terjaga

B. Pengertian Arsip

Menurut bahasa referensi, arsip atau records merupakan informasi yang direkam dalam bentuk atau medium apapun, dibuat, diterima, dan dipelihara oleh suatu organisasi/lembaga/badan/perorangan dalam rangka pelaksanaan kegiatan.[4] Pengertian tersebut tampaknya tidak jauh berbeda dengan yang termaktub dalam UU No. 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan.[5]

Secara etimologi arsip berasal dari  bahasa Yunani Kuno Archeon, Arche yang dapat bermakna permulaan, asal, tempat utama, kekuasaan dan juga berarti bangunan/kantor. Perkembangan selanjutnya kita mengenal archaios yang berarti kuno, archaic, architect, archaeology, archive dan arsip. Pengertian-pengertian tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan betapa sebenarnya bidang kearsipan itu sudah cukup akrab di indera dengar kita, disamping juga sudah cukup tua umur kemunculannya.

Lebih dari sekedar diskusi tentang istilah arsip, sebenarnya secara akademis kita juga akan lebih jauh melihat eksistensi kearsipan sebagai ilmu pengetahuan. Bila ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan yang tersusun dan pengetahuan adalah pengamatan yang disusun secara sistematis, maka kearsipan tentu dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan, kearsipan  memenuhi syarat-syarat universalism, organized, disinterestedness dan communalism. Semua itu  dikemukakan sebagai justifikasi terhadap  eksistensi kearsipan.

Lebih jauh lagi kita dapat melacak kedudukan kearsipan dalam kerangka ilmu informasi.  Dalam ilmu informasi kita mengenal dokumentasi yang didalamnya meliputi dokumen dalam wujud korporil (museum), dokumen dalam wujud literair (perpustakaan), dan dokumen privat (kearsipan).

Secara umum kita dapat mengidentifikasi dokumen dalam wujud korporil sebagai benda-benda artefak dan koleksi-koleksi antik dan karya  yang memiliki nilai historis dan archaic, khasanah  tersebut dikelola oleh museum.

Dokumen literair yang meliputi bidang perpustakaan disebut juga sebagai dokumentasi publik (dokumentasi yang terbuka untuk umum) yang dibedakan dengan dokumentasi privat (arsip). Dalam kaitan ini secara lebih rinci  kita dapat mengidentifikasi perbedaan  arsip dengan perpustakaan sebagai berikut:

1.                           Fungsi perpustakaan adalah menyimpan dan menyediakan koleksi buku dan bahan tercetak, sedangkan fungsi utama arsip adalah memelihara akumulasi dari bukti aktivitas / kegiatan suatu organisasi atau perorangan sebagai organic entity.

2.                           Pustakawan berhubungan dengan koleksi atau bahan pustaka dalam wujud berbagai kopi buku dari suatu terbitan yang sangat mungkin terdapat pada perpustakaan lain. Sedangkan arsiparis atau petugas kearsipan berhubungan dengan khasanah rekaman informasi berupa tulisan atau manuskrip yang unik dan tidak ada ditempat lain.

3.                           Arsip tercipta sebagai akibat dari aktivitas fungsional suatu organisasi atau personal, arsip seringkali terdapat keterkaitan informasi dengan arsip yang lain sebagai satu unit informasi atau kelompok berkas. Sedangkan bahan pustaka merupakan materi diskrit, dimana antara satu buku dengan buku lain tidak saling bergantung.

4.                           Bahan pustaka yang hilang dapat diganti dalam bentuk asli atau tersedia diperpustakaan lain, sedangkan arsip yang hilang tidak mungkin dapat digantikan keotentikannya dan tidak mungkin diperoleh dari tempat lain.

5.                           Pustakawan berinteraksi dengan buku-buku sebagai satuan individu yang masing-masing memiliki identitas tersendiri, sedangkan petugas kearsipan tidak umum memperlakukan arsip secara individu karena berkas arsip  adalah kesatuan informasi.

            Persamaan mendasar dari arsip dan bahan pustaka adalah bahwa keduanya membutuhkan pemeliharaan dan pelestarian. Di negara-negara maju lembaga kearsipan dan perpustakan secara umum tidak dipisahkan, ini terutama dapat dilihat pada organisasi-organisasi kearsipan dan perpustakaan di perguruan tinggi.

 

Arti dan perbedaan perpustakaan dengan:

  1. Arsip
  2. Museum

Arti perpustakaan: kumpulan materi yang tercetak dan media non cetak dan di gunakan oleh pemaki.

Arti arsip: suatu catatan yang tidak di gunakan untuk melakukan kegiatan namaun disimpan baik sebagai bukti keaslian.

PERBEDAAN PERPUSTAKAAN DENGAN ARSIP

  • Perustakaan: menyimpan dan menyediakan koleksi dan bahan tercetak tertentu lainya.
  • Perpustakaan: Mengumpulkan.
  • Perpustakaan: subyek.
  • Perpustakaan: secara nomor kelas.
  • Perpustakaan: menyediakan bahan bacaan.
  • Perpustakaan: buku bisa di fotokopi.
  • Perpustakaan: pustakawan berinteraksi dengan buku satuan individu.
  • Perpustakaan: buku sumber sekunder.
  • Perpustakaan: pemakai lebih luas. .
  • Arsip:memelihara akumulasi arsip dan dinamais atau makalah dari menjadi organik dan peroranagn termasuk bahankearsipan tercetak semacam bahan buku panduan yang di keluarkan oleh sebuah badan, lembaga/ institusi.
  • Arsip: menerima
  • Arsip: tupoksi (catatan yang dilestarikan)
  • Arsip: di simpan di Nasional
  • Arsip sebagai kegiatan
  • Arsip tidak bisa di fotokopi
  • Arsip: sebagai satuan tidak lazim dalam perorangan
  • Arsip: sumber primer
  • Arsip: pemakai terbatas

Konsep Arsip

Arsip berasal dari kata archeion (bahasa Yunani) dan archivum (bahasa Latin) artinya kantor pemerintah dan kertas yang disimpan di kantor tersebut, yang semula diterapkan pada records atau rekaman pemerintah (arsip). Konsep arsip sudah dikenal ribuan tahun lalu, semula arsip menjadi satu dengan perpustakaan. Pemisahan antara arsip dengan perpustakaan terjadi sekitar abad 12 ketika muncul negara kota yang mulai aktif dalam kegiatan perdagangan. Pengertian arsip yang ada di Amerika Utara atau negara Anglo Saxon berbeda dengan pengertian arsip yang digunakan di Indonesia. Di Amerika Utara dibedakan konsep record artinya informasi terekam dengan tidak memandang bentuknya instansi atau perorangan dalam kegiatannya yang berkaitan dengan administrasi, bisnis atau perundang-undangan. Record ini bila telah diserahkan ke badan arsip menjadi archive. Untuk Indonesia pengertian record sama dengan arsip dinamis sedangkan pengertian archives menurut konteks Amerika Utara adalah arsip statis. Gabungan arsip dinamis dan arsip statis dikenal dengan istilah arsip.

Fungsi dan Tugas Arsip

Fungsi arsip ialah:

  1. Membantu pengambilan keputusan.
  2. Menunjang perencanaan.
  3. Mendukung pengawasan.
  4. Sebagai alat pembuktian.
  5. Memori perusahaan, melestarikan ingatan lembaga/instansi.
  6. Efesiensi instansi/lembaga.
  7. Menyediakan informasi produk.
  8. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
  9. Sebagai rujukan historis.
  10. Menyediakan informasi personalia, keuangan, dan sejenisnya.
  11. Memelihara aktivitas hubungan masyarakat.
  12. Arsip juga digunakan untuk kepentingan politik.
  13. Untuk pendidikan. Untuk menyelamatkan diri baik secara fisik maupun rohani.Untuk menelusur silsilah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arsip diartikan sebagai dokumen tertulis yang mempunyai nilai historis, disimpan, dan dipelihara ditempat khusus untuk referensi. (KBBI/Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka, 1988)

Pengertian Arsip lainnya menurut Buku Himpunan UU & Peraturan Kearsipan RI ialah :

  1. Naskah-naskah yang diterima oleh lembaga-lembaga negara dan badan-badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun dalam keadaan berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.
  2. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta dan atau perorangan, dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun dalam keadaan berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.(Himpunan UU & Peraturan Kearsipan RI/Drs. A. W. Widjaja. Jakarta : Rajawali Press, 1990)
  3. Berdasarkan dua pengertian diatas, Drs. Zulkifli Amsyah, MLS. mengatakan bahwa arsip yang disebutkan diatas dibedakan menurut fungsinya, yaitu arsip dinamis dan arsip statis.
    Arsip dinamis ialah semua arsip yang masih berada di berbagai kantor, baik kantor pemerintah, swasta, atau organisasi kemasyarakatan, karena masih digunakan secara langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan kegiatan administrasi lainnya. Arsip dinamis dalam bahasa inggris disebut record.
  4. Sedangkan arsip statis adalah arsip yang disimpan di Arsip Nasional (ARNAS) yang berasal dari arsip (dinamis) dari berbagai kantor. Arsip statis dalam bahasa inggris disebut archieve.

PERBEDAAN PERPUSTAKAAN DENGAN MUSEUM

Perpustakaan:

  • Perpustakan: lebih banyak kertas atau buku atu media lainya.
  • Perpustakaan: menyimpan barang yang bisa di pinjamkan.

Museum:

  • Museum: lebih banyak menyimpan barang yang sejenis.
  • Museum: menyimpan barang yang tidak boleh di pinjam.
  • Arti Museum hanya dapat dipahami karena fungsinya dan karena kegiatan-kegiatannya. Dan zaman ke zaman fungsi museum mengalami perubahan-perubahan.

Menurut Drs. Moh. Amir Sutaarga dalam bukunya yang berjudul: “Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum”, arti museum itu tetap mengingatkan kita kepada kuil di jaman Yunani klasik tempat persembahyangan dan pemujaan ke 9 dewi Muze, lambang-lambang pelbagai cabang ilmu dan kesenian. Ke 9 dewi Muze itu sebagai anak Zeus, dewa utama dalam pantheon Yunani kiasik dijadikan lambang pelengkap pemujaan manusia terhadap agama dan ritual yang ditujukan kepada Zeus. Jadi sekalipun fungsi-fungsi museum berobah dan zaman ke zaman sesuai dengan kondisi dan situasi zamannya, tetapi hakekat pengertian museum tetap tidak berubah. Landasan ilmiah dan kesenian tetap menjiwai arti museum sarnpai sekarang.

Dalam lingkup internasional, masalah yang menyangkut pendidikan, pengetahuan dan kebudayaan ditangani oleh Unesco. Museum mempunyai peranan yang cukup penting dalam rangka kegiatan kerjasama kebudayaan. Untuk menangani berbagai hal mengenai Museum, maka didinikanlah ICOM (International Council Of Museum) yang antara lain bertujuan :

Membantu museum-museum. Menyelenggarakan kerjasama antar museum dan antar-anggota profesi permuseuman. Mendorong pentingnya peranan museum dan profesi permuseuman dalam tiap paguyuban hidup dan memajukan pengetahuan dan saling pengertian antar bangsa yang makin luas.

COM telah merumuskan definisi atau batasan museum sebagai suatu lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan -tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya.

Dan definisi atau batasan tersebut, maka:

a. Museum merupakan badan tetap, tidak mencari keuntungan dan harus terbuka untuk umum.

b.Museum merupakan lembaga yang melayani masyarakat untük kepentingan perkembangannya.

c. Museum memperoleh atau menghimpun barang-barang pembuktian tentang manusia dan lingkungannya.

  1. Museum memelihara dan rnengawetkan koleksinya untuk digunakan sebagai sarana komunikasi dengan pengunjung.

e. Kegiatan-kegiatan museum di belakang layar dan kegiatan yang kelihatan oleh umum, seperti hasil penerbitan, pameran, ceramah dan peragaan kesemuanya itu adalah untuk studi, pendidikan dan kesenangan

 

Sedangkan fungsi museum antara lain adalah :

a. Pengumpulan dan pengamanan warisan alami dan budaya.

b. Dokumentasi dan penelitian ilmiah.

c. Konservasi dan peservasi.

d. Penyebaran dan perataan ilmu untuk umum.

e. Pengenalan dan penghayatan kesenian.

f.  Pengenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa

g. Visualisasi warisan alarn dan budaya.

h. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.

i. Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Dokumentasi menurut Paul Otlet pada International Economic Conference tahun 1905. adalah kegiatan khususu berupa pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penemuan kembali dan penyebaran dokumen.

Arti dokumentasi dari kesimpulkan diatas adalah: kegiatan dokumentasi melibatkan kegiatan pengumpulan, pemeriksaan, pemilihan dokumen sesuai dengan kebutuhan dokumentasi; memungkinkan isi dokumen dapat di akses; pemrosesan dokumen; mengklasifikasi dan mengideks; menyipkan penyimpanan dokumen; pencari kembali dan penyajianya.

Perbedaan:

Perpustakaan.

  1. Melayani pembaca, menyediakan koleksi, melayani yang datang.
  2. Pemintaan buku dapat dibawa pulang atau bisa di baca di perpustakaan.

Perpustakaan adalah kumpulan materi yang tercetak dan media non cetak dan di gunakan oleh pemakai.

Perpustakaan.

Memberikan informasi melalaui buku, boleh dibaca diperpus atau boleh di pinjam. Pertanyaan langsung melalaui telepon tidak bisa langsung terjawab dengan akurat. Tersusun dengan nomor kelas. Cakupan informasi lebih luas dalam bentuk buku. Undang-undang No. 43 Tahun 2007 membahas tentang perpustakaan terdiri dari 15 bab dan 54 pasal. Undang-undang ini disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Nopember 2007 oleh Presiden RI yaitu Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI yaitu Bapak Andi Mattalata. Secara garis besar UU No. 43 Tahun 2007 pengolahan Pustaka. Terlihat bahwa UU Perpustakaan mengatur cukup lengkap berbagai hal yang menyangkut pengembangan perpustakaan, posisi pustakawan dan keterlibatan masyarakat serta tanggungjawab pemerintah dalam proses mencerdaskan kehidupan berbangsa seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Hanya memang sangat disayangkan bahwa UU Perpustakaan belum dapat dilaksanakan sepenuhnya karena peraturan pemerintah sebagai petunjuk pelaksanaannya belum ada. Tujuan dibentuknya UU Perpustakaan seiring dengan tujuan pemberdayaan perpustakaan itu sendiri, yaitu dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Karena bangsa yang cerdas masyarakatnya bisa berkompetisi di era globalisasi dalam kemandirian. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat & mengurangi kemiskinan dan terwujudnya Pembangunan Nasional. Tanggapan masyarakat Berikut ini beberapa tanggapan maupun pendapat masyarakat tentang hadirnya Undang-Undang No. 43 Tentang Perpustakaan:

  1. Menurut Arif Surachman, S.IP., UU Perpustakaan merupakan UU yang memberikan dasar hukum dan harapan perubahan bagi kondisi perpustakaan dan pustakawan di Indonesia[1].
  2. Keberadaan UU Perpustakaan secara langsung dan tidak langsung akan memberikan suatu perkembangan dan perbaikan bagi kondisi perpustakaan dan kepustakawanan di Indonesia[2].
  3. Menurut Tri Hardiningtyas, melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 31-32, pustawakan diberi hak dan kewajiban yang harus ditaati. Mari kita berhenti mengeluh dengan tunjangan yang kecil, koleksi yang sedikit, sarana prasarana kurang memadai, dan sebagainya.[3] “Terkait dengan Undang Undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, Undang-undang yang ada saat ini masih terlalu umum, belum mengatur hal-hal teknis seperti pengelolaan perpustakaan, dan hal-hal teknis lainnya. Kita menuntut adanya regulasi teknis dari setiap ayat yang tercantum dalam undang-undang tersebut,” kata Wien Muldian, aktivis literasi yang mewakili Forum Indonesia Membaca[4].
  4. Menurut Mujib, dalam undang-undang tersebut juga diatur hubungan antara perpustakaan nasional dan perpustakaan di seluruh Indonesia. “Sekarang perpustakaan sudah menjadi lembaga yang dikukuhkan ke dalam undang-undang, ” kata Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar, H Mujib Rohmat usai pengesahan UU Perpustakaan di Gedung DPR[5].
  5. Menurut BAPUSDA Jawa Barat, lahirnya UU No. 43 tentang Perpustakaan memberikan harapan baru untuk semakin mengoptimalkan fungsi dan peranan perpustakaan bagi kemaslahatan masyarakat Jawa Barat serta mewujudkan perpustakaan kesinergian untuk kepentingan seluruh komponen dan stakeholder.[6]

 

 

Jejak Sejarah dalam Folklore

Aulia Rahman

 

  • Folklore

Folklore sering diidentikkan dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia, setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa, golongan agama masing-masing telah mengembangkan folklorenya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia terdapat aneka ragam folklore. Folklore ialah kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat.

  1. Ciri-ciri folklore
    1. Folklore menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
    2. Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yakni dengan tutur kata atau gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya.
    3. Folklore bersifat anonim, artinya penciptanya tidak diketahui.
    4. Folklore hadir dalam versi-versi bahkan variasi-variasi yang berbeda.
      Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya secara lisan sehingga mudah mengalami perubahan.
    5. Folklore bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.
  2. Bentuk-bentuk folklore

1. Folklore lisan adalah folklore yang bentuknya murni secara lisan, yang
terdiri dari:

a)      Puisi rakyat, misalnya pantun. Contoh: wajik klethik gula Jawa
(isih cilik sing prasaja)

b)      Pertanyaan tradisional, seperti teka-teki. Contoh: Binatang apa yang
perut, kaki, dan ekornya semua di kepala? jawabnya: kutu kepala.

c)      Bahasa rakyat, seperti logat (Jawa, Banyumasan, Sunda, Bugis dan
sebagainya), julukan (si pesek, si botak, si gendut), dan gelar kebangsawanan
(raden masa, teuku, dan sebagainya) dan sebagainya.

d)     Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah. Contoh: seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat), koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit) yakni untuk menggambarkan orang
yang bingung.

e)      Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

Folklore sebagian lisan adalah folklore yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: kepercayaan rakyat/takhayul, permainan rakyat, tarian rakyat, adat istiadat, pesta rakyat dan sebagainya.

Folklore bukan lisan (non verbal folklore) adalah folklore yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Contoh: arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Limasan, Minangkabau, Toraja, dsb); kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan dan sebagainya; di mana masing-masing daerah berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa folklore, mitologi,legenda, upacara, dan lagu dari berbagai daerah di Indonesia memiliki nilai sejarah. Semuanya itu memberikan sumbangan bagi penulisan sejarah daerah.Satu hal yang perlu dicermati bila hal itu dijadikan sumber dalam penulisan sejarah, maka perlu adanya kritik sumber sehingga nilai keilmiahan sejarah dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini dibutuhkan kecermatan dan ketajaman untuk menghasilkan interpretasi. Cerita Rakyat terdiri dari budaya, termasuk cerita, musik, tari, legenda, sejarah lisan, peribahasa, lelucon, kepercayaan populer, kebiasaan dan sebagainya dalam populasi tertentu yang terdiri dari tradisi (termasuk tradisi lisan) dari subkultur, budaya, atau kelompok. Itu juga merupakan seperangkat praktik di mana orang-genre ekspresif dibagi. Studi akademis dan biasanya etnografi cerita rakyat kadang-kadang disebut folkloristics. ‘Cerita rakyat’ Kata pertama kali digunakan oleh antik Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal Athenaeum pada tahun 1846. [1] Dalam penggunaan, ada sebuah kontinum antara cerita rakyat dan mitologi. Stith Thompson melakukan upaya besar untuk indeks motif dari kedua cerita rakyat dan mitologi, menyediakan garis ke motif baru yang dapat ditempatkan, dan sarjana dapat melacak semua motif yang lebih tua.

 

Folklore

Folklore dapat dibagi menjadi empat bidang studi: artefak (seperti boneka voodoo), describable dan entitas menular (tradisi lisan), budaya, dan perilaku (ritual). Daerah ini tidak berdiri sendiri, bagaimanapun, seperti yang sering item tertentu atau elemen dapat masuk ke lebih dari satu bidang ini.

 

Artefak

Elemen seperti boneka, barang-barang dekoratif yang digunakan dalam ritual keagamaan, rumah tangan dibangun dan lumbung pangan, [3] dan buatan tangan pakaian dan kerajinan lainnya dianggap rakyat artefak, dikelompokkan dalam bidang sebagai “budaya material.” Selain itu, angka yang menggambarkan karakter dari cerita rakyat, seperti patung tiga monyet bijak mungkin dianggap sebagai artefak cerita rakyat, tergantung pada bagaimana mereka digunakan dalam budaya. Definisi operasi akan tergantung pada apakah artefak yang digunakan dan dihargai dalam komunitas yang sama di mana mereka dibuat.Listen

Read phonetically

 

 

Tradisi lisan

 

Folklore dapat berisi unsur agama atau mitos, itu juga kekhawatiran itu sendiri dengan tradisi kadang-kadang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Folklore sering hubungan yang praktis dan esoteris dalam satu paket narasi. Hal ini sering dicampurkan dengan mitologi, dan sebaliknya, karena telah diasumsikan bahwa setiap cerita kiasan yang tidak berhubungan dengan kepercayaan yang dominan pada waktu itu tidak dalam status yang sama seperti yang kepercayaan yang dominan. Dengan demikian, Roma agama disebut “mitos” oleh orang Kristen. Dengan cara itu, baik “mitos” dan “cerita rakyat” telah menjadi catch-semua persyaratan untuk semua narasi kiasan yang tidak sesuai dengan struktur kepercayaan yang dominan. Kadang-kadang “cerita rakyat” adalah agama di alam, seperti kisah-kisah Mabinogion Welsh atau yang ditemukan dalam puisi skaldic Islandia. “Cerita rakyat” adalah istilah umum untuk berbagai varietas naratif tradisional. Yang menceritakan kisah tampaknya menjadi budaya universal, umum bagi masyarakat dasar dan kompleks sama. Bahkan mengambil bentuk cerita rakyat tentu sama dari budaya ke budaya, dan studi banding tema dan cara-cara narasi telah berhasil menunjukkan hubungan ini. Juga dianggap sebagai cerita lisan untuk diberi tahu untuk semua orang.

Di sisi lain, cerita rakyat dapat digunakan untuk secara akurat menggambarkan narasi figuratif, yang tidak memiliki konten suci atau agama. Dalam pandangan Jung, yang merupakan tetapi salah satu metode analisis, mungkin bukan berkaitan dengan sadar psikologis, naluri pola atau arketipe pikiran. Hal ini mungkin atau mungkin tidak memiliki komponen fantastis (seperti sihir, makhluk halus atau personifikasi dari benda mati). Cerita rakyat ini mungkin atau mungkin tidak muncul dari tradisi agama, namun tetap berbicara dengan masalah psikologis yang mendalam.. Hal itu dipenuhi oleh review menyetujui dan secara signifikan dipengaruhi kemudian penelitian tentang cerita rakyat dan, lebih umum, semantik struktural. Meskipun karyanya didasarkan pada struktur sintagmatik, memberi ruang lingkup untuk memahami struktur cerita rakyat, dimana ia menemukan tiga puluh satu fungsiCultural. William Bascom cerita rakyat menyatakan bahwa cerita rakyat memiliki aspek budaya, seperti memungkinkan untuk melepaskan diri dari konsekuensi sosial. Selain itu, cerita rakyat juga dapat berfungsi untuk memvalidasi sebuah budaya (nasionalisme romantis), serta mengirimkan moral budaya dan nilai-nilai. Folklore dapat juga akar budaya banyak jenis musik. Negara, blues, dan bluegrass semua berasal dari cerita rakyat Amerika. Contoh seniman yang telah menggunakan tema folkloric dalam musik mereka akan: Bill Monroe, Flatt dan Scruggs, Old Crow Medicine Show, Jim Croce, dan banyak lainnya. Folklore juga dapat digunakan untuk menegaskan tekanan sosial, atau membebaskan mereka, misalnya dalam kasus humor dan karnaval Selain itu, studi folklorists sistem kepercayaan medis, supranatural, agama, dan politik sebagai bagian penting, seringkali tak terucap, budaya ekspresif.

Ritual

Banyak ritual kadang-kadang dapat dianggap cerita rakyat, apakah itu secara resmi dalam sistem budaya atau agama (misalnya pernikahan, pembaptisan, festival panen) atau dipraktekkan dalam keluarga atau konteks sekuler. Sebagai contoh, di bagian-bagian tertentu dari Amerika Serikat (dan juga negara-negara lain) satu tempat pisau, atau gunting, bawah kasur untuk “memotong sakit kelahiran” setelah melahirkan. Selain itu, menghitung-out anak-anak game bisa didefinisikan sebagai perilaku cerita rakyat.

Sejarah Pendidikan ; Pengolahan Pendidikan Pasca PRRI 1961 – 1974 di Kota Bukitinggi

Latar Belakang

Pergolakan pemerintahan revolusioner republic Indonesia (PRRI) yang terjadi di Sumatra barat mningalkan trauma yang sangat mendalan bagi selurh masyarakat minangkabau.  Trauma ini tidak hanya bersifat individu tetapi tsegala aspek kehidupan mulai dari social, politik, budaya, ekonomi, dan pendidikan mengalami trauma. Puing – puing pergolakan menjadi pemicu timbulnya rasa trauma.

Aspek pendidikan salah satu penyokong perkembangan zaman. Dengan adanya pendidikan segal sesuatu menjadi mudah. Tepati pasca Pergolakan PRRI pendidikan di sumatrea barat mengalami penuruna yang dratis sampai dosen yang ingin mengajar di sebuah perguruan tinggi yang ada di Sumatra barat melewati prose introgasi di bandara tabing  yaitu sewaktu Harusn Zain menjadi dosen terbang di Universiatas Andalas [1].

Sebelum tahun 1950an sumatera batar yang sewaktu itu bernama sumatera tengah  mengalami perkembangan tyang sangat persat dalam bidang pendidikan. perkembangan sekolah menjadi indikator bahawa sumatera tengah telah terjadi peningkatan yang siknifikan dalam pembanguna sekolah – sekolah[2].  pada waktu terjadi pergolakan prri mulai dari pelajar, mahsiswa dan dosen sekalipun mendukung gerakan yang terkenal dengan koreksi terhadap pemerintahan pusat dan sekolah menjadi basis pergerakan karena banyak diantara para pelaku atau kata lain pengerak PRRI adalah kalangan akademis.

Selama ini pengkajian masalah PRRI terjebak dalam area politik social budaya dan ekonomi sedangkan masalah pendidikan terutama bagaimana perana sekolah – sekolah dan perguruan tinggi mungkin terbaikan padahal sentral utama dari perolakan ini adalah perlawanan kaum akademis di minangkabau yang dan itu sebabnya mengapa banyak yang menjadi tertaea atau plaku langsung dari PRRI dalah pelajar, mahasiswa dan dosen.

Pergulatan elit sartono kartodirjo : peranan kaum elite dalam suatu gerakan perlawanan menjadi kunci utama. Dalam hal ini pelajar dan dosen menjadi kaum elie .

Sekalai lagi dalam journal Historia Sekolah dan gerakan DDaerah yang ditulis oleh Gusti Asnan: sekolah dijakian sebagai “ tameng” untuk menyatakan bahwa kondisi aman dan terkendali. Tentara berusaha mengiterversi pelajar agar mengutuk PRRI selan itu selam pergilakan berlangsung bayak sekolah yang dihancurkan dan dibakar. Dan dikatakan Universitas Andalas adalah potret nyata ketika penyatuan Fakultas yang bertebaran di bukitinggi, payakumbuh dan batusangkar disatukan di Padang agar bisa dikontol langsung.

Munculnya pergolakan PRRI tahun 1958 menentang pemerintahan pusat tidak lepas dari peranan sekolah, murid sekolah rakyat ( SR), murid SPM, murid SLTA, mahasiswa, guru dan dosen baik yang dipaksa dan melibatkan diri dalam pergolakan ini[3]

Salah satu contoh yang kita lihat dengan penyatuan satu wilayah Universitas Andalah di Bukit Karamuntian Limau Manis Kec. Pauh Kota Padang mnjadi bukti nyata bahwa denngan penyatuan tempat akan memudahkan konteol pmerintah terhadap pndidikan.[4]

Memnrut teori Piaget yang banyak mempengaruhi pendidikan bahwa guru atau tenaga pendidik berperan besar dalan penentuan kurikulum, metode pengajaran, dan memeilh bahan yang akan diajarkan kepada murid mendapat control yang kuat terhadap pola pemikiran muris, pola perkembangan ideology pasca perang. [5]

 

Batasan Masalah

Proposal ini dengan judul Pengelolaan Pendidikan Pasca PRRI 1961 – 1974 di Lima Puluh Kota yang salah satu basis dari PRRI. Menurut Taufik Abdullah batasan massalah ada 3 lingkup yang menjadi perhatian antara lain: lingkup spasial, lingkup temporal, dan lingkup keilmuan. Karena sejarah akan berbicara masalah manusia, waktu dan tempats sehingga secara metodologi bisa di pertanggungjawabkan.[6]

Adapun untuk batasan spasial yang membicarakan batasan wilayah. Wlayanh yang akan menjadi objek penelitian adalah Kabupaten Lima Puluh Kota. Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi basis PRRI, peulisan ini bersifat sejarah lokal khususnya dalam kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa Minangkabau sehingga arti penting peristiwa ini mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Untuk memenuhi penulisan yang bersifat Indonesiasentrisme sejarah lokal menjadi salah satunya.[7]

Secara geografis Kabupaten Lilma Puluh Kota berdekatan dengan Bukit Tinggi yang menjadi pusat PRRI.

Batasan waktu yang menjadi fokus penelitian adalah tahun 1961 dimulainya awal pasca PRRI. Batasan tahun 1974 berkenaan dengan kembalinya terpilih Soeharto sebagai Presiden RI. Rntang tahun ini dimulai pembanguanan kembali Sumatera barat pasca PRRI oleh gubenur Harun Zain, pemberontakan PKI dan awal Orde Baru.

            Lingkup keilmuan penulisan ini termasuk dalam kategori sejarah pendidikan. Yang akan dikaji dalam sejarah pendidikan adalah sitem pendidkan darurat perang dan pasca perang, kurikulum, bangunan, pengajaran, pengolahan proses belajar mengajar dan fungsi pendidikan pasca perang.

Rumusan masalah

  1. Siapa pelaku pengelohalan pendidikan sebelum sedang dan sesudah PRRI?
  2. Apa bentuk kuruikulum  yang akan diajarkan pasca PRRI
  3. Bagaimana kondisi pendidikan berlangsung pasca PRRI?
  4. Bagaimana respon masyarakat terhadap pendidikan?
  5. Apa bentuk pendidikan pasca darurat perang?
  6. Bagaimana perkembangan pendidikan pasca PRRI?
  7. Bagaimana pengolahan pendidikan pasca PRRI?

 

Tujuan Penulisan

  1. Untuk melihat pranan para pelaku pengolahan pendidikan.
  2. Untuk melihat pengajaran kurikulum pasca PRRI sehingga pengajaran kurikullum di dearah pasca Konflik
  3. Untuk melihat scara langsung pendidikan
  4. Melihat respon masyarakat pasca perang saudara
  5. Melihat bentuk pendidikan
  6. Melihat perkembangan pendidikan
  7. Melihat pengelolaan

 

Kerangka Analisis

Sejarah ini termasuk sejarah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintahan melalai bimbingan pengarahan dan latiahan diselengarakan oleh lembaga pendidikan formal dan informal.[8] Lembaga adalah suatu yang membentuk organisasi pada yang lain atau badan organisasi yang bertujuan mengedepankan pelatian atau usaha sadar.

 

Metode Penelitian

Agar penelitian ini memperoleh hasil yang baik, maka perlu menggunakan tahap-tahapan metodologis. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode sejarah yang di dalamnya terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh diantaranya heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.

Langkah pertama adalah heuristik (pengumpulan data atau sumber), salah satu cara yang saya gunakan adalah melakukan studi lapangan dengan cara melakukan wawancara dan terjun langsung ke daerah Kota Bukitinggi.

Pengumpulan sumber mulai dari arsip – arsip daerah yang ada di wilayah Sumatera Tengah terutama Sumatera Barat, Riau dan Jambi, perpustakaan Jurusan Sejarah dan Fakultas Sastra dan Perpustakaan Universitas Andalas, perustakaan Daerah dan Perustakaan Nasional serta ANRI. Sebagai daerah tempat penelitian, terjun lansung ke kota Bukitinggi untk mencari sumber lisan melalui wawancara dengan para pelaku yang masih hidup maupun keluarga, guru – guru sekulah, kepala sekolah. Ini dapat dilakukan mulai dari sampel acak maupun dengan temuan yang didiapat melaui sumber tertulis.

Langkah kedua dari metode penelitian sejarah ini yang harus dilakukan setelah pengumpulan sumber adalah kritik terhadap sumber. Proses ini dimaksudkan untuk mendapatkan kebenaran dari sumber-sumber yang telah ada, sehingga melahirkan suatu fakta. Kritik ini terdiri dari dua bentuk yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik ekstern ditujukan untuk melihat atau meneliti kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasanya, kalimatnya, ungkapan kata-katanya, huruf dan semua penampilan luarnya, jadi maksudnya kita di sini lebih fokus kepada studi tulisannya. Sedangkan kritik intern ditujukan untuk melihat kredibilitas dari sumber tersebut.

Kemudian langkah ketiga setelah dilakukan kritik adalah interpretasi yang berupa penafsiran-penafsiran yang merujuk pada fakta-fakta yang dihasilkan. Dilanjutkan dengan tahapan terakhir dari metode penelitian sejarah yaitu penulisan atau historiografi. Pada tahap ini fakta-fakta yang ditemukan akan dideskripsikan dalam bentuk penulisan yang sistematis.

 


[1]  Mustiaka Zet : Sumatra barat dipanggung sejarah

[2]  Gusti asnan : Hiatoria Juornal : sekolah dan gerakan daerah

[3] Skripsi. Wirdam, Sekolah Guru Agama  Islam:dari Sekolah  Guru  Bawah ( SGB) Sampai Pendidikan  Guru Agama (PGA )Mu’alim Muhammadiyah Talu Kab. Pasaman ( 1952 – 1974) hal 11

[4]  Salingaka unand 2008

 

[5] Google book Dr. Paul Suparno teori perkembangan kognitif  Jean Piage. Diunduh  tanggal 11desember 2010 jam 20.00

[6]Taufik Abdullah, Sejarah Lokal di Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979), hlm. 10.

[7]Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif (Jakarta: PT. Gramedia, 1982), hlm. 34.

[8]  Op. Cit Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta : Kalam  Mulia 2006) hal 18

ASAL USUL SUNGAI PATAI

Sejarah Nagari Sungai Patai sudah dipusakai sejak dulu mulai dari dusun di talago jaya. Dulu di dusun Talago Tinggi sebelah timur nagari Sungai Patai sekarang terdapa air yang mencembur dari tanah, orang yang dulu dari Talago Tinggi menamai air terbit, yang memancar tegak lurus dan mengaliri dua sungai di sisi barat dan timur perkampungan. Setelah dicemati dari atas dusun Talago Tinggi bentuk nagari ini seberti buah petai yang mana dari sisi ke sisi di aliri sungai dan di tengah – tengah di tempati untuk pemukiman. Setelah dicermati bentuk nagari ini seperti petai. Menurut flosofi orang tua – tuo dahulu petai ini benar berbau busuk akan tetapi jika dimasak untuk makanan akan terasa enak, sama halnya dengan orang – orang yang pernah tinggal atau singgah di nagari ini, jika mereka tidak berpandai – pantai maka hidup disini akan terasa membosankan akan tetapi jika pantai membawakan diri maka akan kerasan tinggal sama layaknya petai jika pandai memasaknya maka akan terasa enak. Di daerah Talago Tinggi ini ditemuka balai (pasar) dan tempat balai untuk kerapatan.
Menurut versi lain di sungai – sungai tersebut tumbuh pohon petai yang sangat besar. Karena temapt Talago Tinggi tidak bisa memnuhi kebutuhan sehari – hari maka oeang – orang dari Talago Tinggi pindah ketempat yang lebih bisa memenuhi kebutuhan orang banyak. Sejak orang Talago Tinggi turun ke daerah rawa – rawa yang kini menjadi pemukiman mansyarakat. Sebelum sampai ke daerah raawa – rawa itu setiap sungai yang mereka temukan selalu ada batang petai yang tumbuh maka mereka berniat jika membuka pemukiman maka memberi nama nagari Sungai Patai.
Setelah turun dari Talago Tinggi, di buat mesjid dan balai – balai adat dalam sistm pemerintahan nagari yang terdiri dari 30 penghulu dan masuk dalam persekutuan adat (adat federate) dimana nagari ini berhulu yaitu persekutuan Sungai Tarab. batas – batas nagari menurut I.G.O ( Comitte dimentie) pada tahun 1914 semasa pemerintahan kolonial belanda dengan ditetapkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan diarsipkan oleh DT. SNINARO pada tanggal 2 JUNI 1952, dengan batas nagari : ka timur gunuang sago, kayu bapilin padang nan tigo, hinggo bukik sungkiang ba janjang ka Sungai Patai bapinti ka ladang laws. ka barat berbatasan dengan kewalian angari sumanik hinggo batu biliak guguak situnggang puncak nan duo. ke selatan kewalian tanjung sungayang hingga galanggang cigak paraku anjiang labuah sampik mahligai Dt. Gamuak kampuang ranah sungayang. ke utara kewalian si tumbuak hinggo lakuk tarok, bukit tigo sakumpa hinggo lakuk sikumbang.
System adat yang dipakai di nagari sungai patai adalah hinggo mancakam dahan, tabang manumpu dahan ( dan diwajibkan bagi orang dagang untuk mengaku mamak kepada salah datu suku yang telah menempati sungai patai dari dahulunya. System penghulu Ramo – ramo sikumbang jati, kati endah pulang bakudo, patah tumbuah hilang baganti, pusako lamo disina juo. Biriak – biriak tabang kasasak, dari samak tabang kahalaman, dari ninik turun kamamak dari mamak turun kakamanakan. Dalam kehidupan sosial karajo baiak bahimbaoan karaojo buruak samo – samo malarang.

Daftar Pustaka
Mongrafi Nagari – Nagari Sumatera Tengah Arsip Pustaka Fak Sastra Unand.