Benteng Van Der Capellen

Oleh Aulia Rahman

Pendahuluan
A. Lokasi Benteng Van Der Capellen
Benteng terletak di Kampung baru Nagari Baringin kec. Lima kaum kab. Tanah datar, Sumatera barat. Dibangun oleh pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1822 yang bertujuan untuk peertahanan dari serangan Paderi yang saat ini mulai bekecambuk gerakan paderi. Setelah perjanjain London belanda kembali memiliki daerah jajahannya di Hindia Belanda termasuk sumatera barat.
Semua daerah jajahan belanda hanya sekitar pantai barat sumatera dan tidak menusuk kearah pedalam sumatera yang sering di sebut darek. Pada 30 November 1795 – 22 mei 1819 ingris berkuasa di sumatera barat dan rentang tahun ini S.T.Raffles melakukan perjalanan kedaerah pedalama sumaatera sehingga melakukan pembuatan catatan perjalanan selama di sumatera. Belanda mengirimkan tertaranya dari Batavia di bawah pimpinan Letkol Raaf dan berhasil menduduki Batusangkar dekat Pagaruyung lalu mendirikan benteng yang bernama Fort Van der Capellen. Kubu pertahanan yang dibangun Belanda waktu itu berupa bangunan gedung dari beton yang mempunyai ketebalan dinding ± 75 cm, ± 4 meter dari dinding bangunan dibuat parit dan tanggul pertahanan yang melingkar mengelilingi bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van Der Capellen sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Belanda waktu itu.
Pada tahun 1821 rombongan penghulu dari tanah datar menemui Puy di padang untuk meminta bantuan belanda melawan gerakan Paderi. Isi perjanjian 10 Februari 1821 antara lain : Kepala penhulu dari pemerintahan kerajaan pagaruyung menyerahkan kekuasaan ke Pmerintahan Hindia Belanda; Tidak menentang Hindia Belanda
Koordinat situs00o 27′ 16.70″ LS 100o 35′ 46.00″ BT. Luas area benteng secara keseluruhan 8880 m2 dan luas bangunan benteng 22 x 22 m 2. Untuk lokasi sekarang ini benteng letak sangat strategis berada di pusat kota Batusangkar.
B. Transportasi
1. Pusat transportasi dari kota Padang sebagai Ibukota sumatera barat berjarah kita ± 100km atau 3 jam perjalanan dengan Bus.
2. Dari pusat kota batusangkar itu sendiri ± 10 menit jalan kaki, letak benteng yang tidaj jauh dari taman kota yang di sebut lapangan cindua mato.
C. Jumlah Penduduk
Benteng van der capellen terletak di jorong Kampung baru nagari Beringin kec. Lima kaum Kab. Tanah Datar dengan jumlah penduduk 14.340 jiwa luas nagari beringin ± 12,35 km².
D. Sumber Daya Alam
Sumber Daya alam yang ada hanya lahan pertanian
E. Hamparan Alam
Pembangunan Benteng Van Der Capellen merupakan daerah teringgi dari nagari Baringin yang di sini juga menjadi pusat kota Batusangkar. Alam yang datar dan sebelah barat ada sedikit berlembah.
Bab II
Catatan Sejarah dan Dokumentasi
A. Dokumentasi Pemerintah
Dalam hal ini yang berwenang adalah BP3 Batusangkar yang menjadi penangungjawab dari pelestarian Benteng Van Der Capellen. Sedikit gambar area benteng sekarang ini dijadikan tempat pelatian dan persiapan Jambore nasional oleh pemrintahan tanah datar. Latian ini diadakan pada setiap hari minggu. Selain itu dinas kebudayaan dan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng tanah datar juga mempunyai andil dalam dokumentasi. Ada beberapa intansi yang harus penulis temui untuk mendapatkan dokumentasi pemerintah:
1. Batalyon 439 Diponegoro
2. Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar
3. Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala
4. Dinas kebudayaan dan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng
5. Gugus Depan( bagian kepramukaan)
Pada tahun 2008 sebahagian dari bangunan Benteng Van Der Capellen telah direnovasi oleh Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala kemudian akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2009 ini, yaitu mengembalikan ke bentuk aslinya.
Keberadaan Belanda di Batusangkar sampai saat meletusnya Perang Dunia II. Pada saat Jepang berhasil merebut Sumatera Barat kemudian Belanda meniggalkan Batusangkar. Benteng Van Der Capellen kemudian dikuasai oleh Badan Keamana Rakyat (BKR) dari tahun 1943-1945. Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajahan Jepang, Benteng Van Der Capellen kemudian dikuasai oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu Agresi Belanda II, Benteng Van Der Capellen kembali dikuasai Belanda selama dua tahun, yaitu tahun 1948-1950.
Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van Der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) untuk proses belajar mengajar yang saat itu diresmikan olah Prof. M. Yamin, SH. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG berlangsung sampai tahun 1955 dan pada tahun itu juga PTPG dipindahkan ke Bukit Gombak.
Benteng Van Der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia. Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van Der Capellen dikuasai oleh Batalyon 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada POLRI pada tanggal pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh POLRI kemudian ditetapakan sebagai Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van Der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan baru yang berada di Pagaruyung.
Beberapa perubahan bangunan, antara lain atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk serse dan dibangun pula TK Bhayangkari. Parit yang masih ada disebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin dan bangunan untuk gudang.
Pada Tahun 2008 sebahagian dari bangunan Benteng Van Der Capellen telah direnovasi oleh Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala kemudian akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2009 ini, yaitu mengembalikan ke bentuk aslinya. Pada tahun 2011 Benteng Van Der Capellen dijadikan sekertariat Panitia Penyelengaran Jamboter Budaya Serumpun Indonesia Dan Malaysia.
Sekitar 90 persen dari 442 benteng di Indonesia musnah, rusak, dan beralih fungsi. Tim dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala kini tengah mengkaji pemanfaatan benteng-benteng tersebut. Beberapa benteng yang kondisinya baik dan bernilai ekonomis, antara lain Benteng Vredeburg (Yogyakarta), Vastenburg (Solo), Fort Van Der Capellen (Batusangkar), Marlborough (Bengkulu), dan Fort Rotterdam (Makassar).
Komplek Benteng Fort Van Der Capellen Batusangkar, Tanah Datar, Sumbar, akan dijadikan lahan terbuka hijau. Ditetapkannya benteng bangunan Belanda tahun 1822-1826 menjadi taman kota untuk penyangga kawasan Indo Jalito. Nantinya bangunan yang sudah masuk sebagai situs Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng tersebut akan terlihat hijau dan asri. Hal teresebut dalam meningkatkan paru-paru kota Batusangkar. Demikian dikatakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Tanah Datar, Marwan, S.E menjawab korandigital.com Selasa (13/7/2010) di Batusangkar.

Analisa Perkembangan Potensi Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng
Sesuai dengan UU No 11 Tahun 2010 ada beberapa yang perlu diketahui dalam prinsip – prinsip pelestarian benda arkeologi antara lain; cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Benda cagar budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia. Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
Zaman sekarang terjadi salah pandangan atau cara berfikir mengenai benda cagar budaya, baikdari segi pengolahan, pelestarian, pemanfaatan serta publikasi. Hal ini, akan terlihat jelas ketiak terjadi pembangunan situs wisata kesejarahaan. Ketika benda arkeologi tersebut akan dijadikan kawasan wisata akan terjadi pertentangan pandangan mengenai benda arkeologi. Disisi benda tersebut akan terlihat seksi, menarik, megah ketika dibangun ulang maupun dipugar, sedangkan pihak lain akan mempertahankan keaslian benda arkeologi walaupun sedikit cacat dimakan zaman. Dalam prinsip – prinsip pelestarian benda arkeologi sebuat benda arkeologi akan dipertahankan keasliannya untuk menjadi nilai –nilai yang terkandung dalam benda tersebut. Dan tidak diperbolehkan menukar keaslian benda arkeologi
Untuk pengembangan potensi Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng Benteng Van Der Capellen da beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Mengkaji ulang Tata Ruang kota Batusangkar
Tata Ruang kota Batusangkar sekarang ini adalah warisan colonial Belanda. Tata ruang ini sudah relative bagus untuk kota sebesar kota Batusangakat tapi tidak memungkinkan untuk pegembangan Benteng menjadi tempat wisata.
Letak benteng yang tidak jauh dari pusat pasar, lapangan bola, sekloah, kantor lantas, termilan.
Disatu sisi ada kebaikan untuk mendatangkan orang berwisata tetapi kendala kemacetan akan mengintai di masa depan. Angkat yang masuk kebadan kota mengakitbatkan kemacetan pada Hari balai yaitu hari kamis. Belum lagi berdekatan dengan sekolah – sekolah mulai sari sekolah dasar sampai sekolah menengah., taman kota yang di tempati oleh anak – anak sekolah yang untuk ngumpul
2. Kurangnya publikasi
Sekarang benteng Van Der Capellen hanya di kenal sebgai benteng belanda tapi sejarah public yang menerangkan tidak ada yang lebih rinci bagaiman riwayat dari benteng tersebut.
3. Pengembangan transportasi wisata sejarah keliling kota Batusangkar
Salah satu dengan kereta api. Kereta api merupakan alat transportasi public yang sangat ekonomis, efektif dan efesien. Dengan kontruksi yang disesuaikan dengan kondisi alam sumatera tidak bersahabat sering dilanda bencana terutama bencana gempa. Rel kereta api yang bergerigi merupakan adopsi untuk ketahanan terhadap bencana, selain itu kontruksi teksini seperti ini merupakan satu – satunya ada di sumatera yaitu di jalur padang panjang. Dapat dibayangkan perbukitan dan gunung – gunung berapi yang ada di sumatera barat antara lain Gunung Merapi, Gunung Sago, Gunung Singgalang, Gunung Talang, Gunung Talamau, Gunung Pasaman, Gunung Talang dan Gunung Kerinci yang sering “batuk – batuk” mengkibatkan keadaan tanah yang sekitarnya bergoncang. Keadaan gunung yang mengelilingi daerah ini , potensi bencana alam terutama gempa, banjir bandang dari gunung setiap saat dapat melululantakan pemukiman masyarakat disekitarnya. Belum lagi pulau sumatera berada di pertemuan 2 lempeng yang setiap saat siap mengoncang.
Kereta api dipergunakan untuk menganggut hasil alam, manusia dan batubara dari kota sawahlunto. Setelah dibukanya tanbang batu bara di kota sawahlunto tahun 1891, kereta api lebih sering difungsikan untu pengangkuta batu bara dari kota sawahlunto ke kota padang untuk di angut ke Eropa melaulu Pelabuhan teluk Bayur.Untuk kota Batusangkar sendiri bias dibangun rel pendek kereta wisata sejarah.
Selain ini, pembuatan jalur khusus kereta dan mereka untuk pengembangan kota lama kota Batusangkar.
4. Pembuatan acara yang berskala daerah dan nasional untuk pengembangan dan sara promosi benteng .
5. Membuat taman benteng yang tidak mengangu gugat bentuk asli benteng. Dengan letak tinggi di kota batusangkar, pengembangan menara untuk melihat kota batusangkar dari tempat tinggi. Sebagai kota budaya pecan budaya bias di helatkan di benteng ini.

Ketika terjadi perubahan secara fisik, struktur benda arkeologi akan menghancurkan sistem nilai yang diendapkan dalam benda arkeologi. Benda arkeologi, situs, kawasan serta bangunan yang mewakili cara berfikir masyarakat pada zaman tersebut sehingga kehilangan salah satu unsur akan merubah sistem yang ada dan dapat mengubah pandangan kita dimasa sekarang. Mengabaikan prisnsip – prisip pelestarian benda arkeologi berbagai unsure filosofis, unsure kebudayaan, ilmu pengetahuan dan nilai kesejarahan akan hilang begitu saja tanpa bsa dilacak secara jauh.
Pemahaman yang salah dalam pelestaraian benda arkeologi akan menghilangkan jalur akses informasi ke masa lalu. Sehingga data yang didapat dari penelitian, pelestarian, pemanfaatan dan publikasi benda yang dilestarikan dengan mengabaikan prinsip – prinsip pelestarian akan memberikan data yang tidak valid untuk generasi akan datang. Intinya ketika terjadi perubahan baik secara struktur akan mengubah cara berfikir masyarakat baik yang didapat dimasa lalu dan masa sekarang serta masa depan.
Kesalahan dalam pelestaraian sebagai contoh kita ambil dalam pemugaran sebuah bangunan tembok buatan masa Belanda. Ketika bangunan tersebut akan dipugar tetapi ada satu bagian tiang yang rusak, maka cara terbaik adalah mencarikan bahan bangunan yang sezaman yang telah roboh kalaupun susah dicarikan bahan yang hampir serupa dengan banguan yang akan dipugar. Hal ini dinamakan dianalgokan artinya dicarikan bahan yang hampir sama dengan bentuk asli.
Pelestarian benda arkeologi erat kaitannya dengan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng. Kurangnya pengetahuan memperlakuan, memanfaatkan, melestarikan benda arkeologi akan terjadi kesalahan dalam publikasi benda yang mempunyai muatan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan dan sejarah akan berdamapk yang tidak baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Selain, erat juga kaitannya dengan pengolahan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng berbasis orientasi kebijakan. Pergantian kepala daerah akan berbeda pola – pola orientasi kebijakan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng yang berbasis kesejarahan. Tidak dapat kita menutup mata bahwa orientasi kebjakan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng sekarang ini adalah berbasis kapitalisme, mengedepankan kepentingan bisnis menyampingkan keaslian sebuah benda mempunyai muatan sejarah. Ada sebuah pandangan ketika seseorang wisatawan mancanegara dalam untuk melihat wisata kesejarahan, mereka akan melihat keaslian benda cagar budaya yang unik tanpa terkontaminasi oleh perkembangan zaman sekarang dan suasana masa lalu tergambar jelas.
Kedepan kita berharap akan lahir insan – insan generasi yang mengenal, mencintai dan melestarikan budaya, memanfatkan benda arkeologi yang mengikuti alur prinsip – prinsip pelestarian arkeologi. Adanya sinkronisasi antara pembuat kebijakan, insan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng, dan pengiat arkeologi baik ditingkat Lokal maupun Nasional.

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas bahwa benteng Van Der Capellen dijadikan tujuan wisata sejarah Kab. Tanah Datar. Pengembangan potensi in I sangat memungkina untuk pertambahan perekonomian dan pengenalan Pariwisata dan Reboisasi taman Benteng.
B. Kritik Dan Saran
Di dalam penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kami mohon kritik dan saran dari semua pihak agar penulisan makalah kami yang selanjutnya bisa menjadi lebih baik.

Daftar Pustaka
Gusti Asnan, Pemerintahan Sumatera Barat Dari VOC Sampai Reformasi, Yogyakarta: Citra Pustaka, 2006
M.D Mansoer Dkk, Sedjarah Minangkabau, Djakarta: Bra- Tara, 1970
Ricklefs, M.C, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008, Jakarta: Serambih, 2008
Rusli Amran, Sumatra Barat Sampai Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan, 1981
—————-, Sumatra Barat Sampai Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan, 1985
http://in.tanahdatartourism.com/index.php?option=com_content&view=article&id=66&Itemid=74

Advertisements