Ada apa dengan rangkiang?

Rangkiang atau nama lainnya lumbung adalah sebuah rumah kecil di sebelah rumah gadang yang dipergunakan untuk menyimpan padi untuk persiapan – persiapan segala kemungkinan terjadinnya kelaparan baik akibat faktor alam dan faktor manusia seperti perang. Keberadaan rangkiang di Minangkabau memiliki multi fungsi. Fungsi rangkiang itu sendiri ada pada berbagai corak bangunan rangkiang dan tata letaknya.

Secara fungsional rangkiang di rancang untuk menangulangi kaum atau orang yang mempunyai rumah gadang dari paceklik, atau memenuhi kebutuhan dikala terdesak seperti untuk keperluan upacara adat, melewakan gala dan cadangan ketika terjadi perang antar kampung, untuk keperluan panghulu ketika menjalankan tugas sehari – harinya sebagai penghulu dan upacara adat lainnya yang di anggap penting. Mengutip dari buku A. Navis dalam bukunya “Alam Terkembang Jadi Guru”. Ada empat jenis rangkiang yaitu : (1) Sitinjau Lauik, yaitu tempat penyimpan padi yang akan digunakan untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibuat sendiri. Tipenya lebih langsing dari yang lain, berdiri diatas empat tiang. Letaknya ditengah diantara rangkiang yang lain. (2) Si bayau-bayau, yaitu tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk makan sehari-hari. Tipenya gemuk dan berdiri diatas empat tiangnya. Letaknya disebelah kanan.(3) Si tangguang lapa, tempat menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim paceklik. Tipenya persegi dan berdiri diatas empat tiangnya. (4) Rangkiang kaciak, yaitu tempat menyimpan padi abuan yang akan digunakan untuk benih dan biaya mengerjakan sawah pada musim berikutnya. Atapnya tidak bergonjong dan bangunannya lebih kecil dan rendah. Adakalanya berukuran bundar. Dari system pembagian dan fungsi rangkiang ini hubungan antar keluarga dalam suatu kaum akan terjaga.

Rangkiang yang berjejeran di halaman rumah gadang menjadi ikon atau simbol kejayaan suatu kaum. Peletakan posisi rangkiang itu sendiri itu telah menurut fungsinya masing-masing. Nilai – nilai yang ada dalam tata letak rangkiang mengajarkan banyak hal antara lain kejujuran dalam memimpin. Rangkiang akan berjalan sesuai fungsinya jika dijalankan oleh penghulu yang memiliki kejujuran. Kejujuran seorang penghulu akan terlihat ketika pemanfaatan padi yang ada dalam rangkiang itu sendiri. Jangan sampai padi yang ada di rangkiang si tangguang lapa di pergunakan untuk keperluan sehari – hari.

Mungkin akan timbul sebuah pertanyaan yang selalu terbayang dalam benak seseorang manakala membaca ulasan mengenai rangkiang yaitu mengapa rangkiang hanya sebagai tempat menyimpan padi tidak hasil bumi lainnya?

Ada suatu nilai yang dapat diambil dari bangunan rangkiang. Salah satu nilai antara lain nilai kejujuran. Nilai kejujuran untuk tidak mengambil hak yang bukan milik pribadi seorang pemimpin kaum melainkan hak untuk seluruh kaum. Rangkiang bukan milik pribadi akan tetapi milik kaum. Rangkiang bukan milik penghulu yang memimpin melainkan milik kaum yang dipimpin.

Hidup yang bermasyarakat maka rangkiang menjadi tempat khusus peletakan panen padi hasil kaum. Misalnya padi yang di panen dari sawah kaum maka hasil bumi itu menjadi kepemilikan bersama dari kaum tersebut. Jadi rangkiang sebagai unsur yang dapat menyatukan mereka yang ada dalam suatu kaum. Dan kenapa diletakan di depan halaman supaya jelas siap yang akan mengambil, mempergunakan untuk apa padi yang ada dalam rangkiang. Disini lah mulai kita lihat sebuah nilai yang diajarkan secara tidak langsung oleh nenek moyang yaitu kejujuran.

Didunia ini suatu nilai kejujuran sangat mahal harganya. Kejujuran akan ada jika ada imbalan d aiming-iming tertentu. Akan tetapi posisi letak dari letak rangkiang di depan halaman rumah mengajarkan suatu nilai kejujuran terhadap penghulu, kemenakan dan anak.

Pengalian nilai dari rangkiang ini sebuah pembangkitan batang tarandam. Untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan sebuah kejujuran sehingga dapat menguntungkan hajat hidup orang banyak terutama orang yang dipimpin. Sama hal nya dengan niniak mamak, posisi rangkiang mengajarkan secara tidak langsung erhadap niniak mamak selaku pemimpin kaum untuk berlaku jujur. Niniak mamak bisa saja mengambil padi yang ada dalam rangkiang yang jelas – jelas bukan milik dia pribadi akan tetapi ini tidak bisa beliau lakukan karena ada beban moral yang harus dia pikul. Nilai moral kejujuran yang ditanamkan dalam banguanan rangkiang.

Rangkiang dijadikan manajemen keuangan yang kuat. Rangkiang menjadikan masayarakat Minangkabau yang siap aka setiap musim yang akan terjadi.  Kondisi alam yang tidak menentu maka manajen yang kuat akan pentingnya petahanan hidup. Rangkiang menjadikan manyarakat teteang pentingnya berhemat. Umumnya rangkaing ada di daerah pergunungan karean menreka bergantung pada hasil alam. Alam tidak akan selalu memberikan makanan terhadap mereka. hal inilah menjadikan rangkiang sebagai tempat cadangan. Berbeda dengan daerah pesisir pantai rangkaiang tidak dapat ditemui karena dalam berburu hasil ini habis hari  ini juga. Sekirannya penghulu tidak jujur dalam tata pengelolaan harta yang ada dalam rangkiang maka kaum yang dipimpinnya akan mengalami kelaparan pada musin paceklik baik itu disebabkan oleh bencana alam seperti gempa maupun akibat perang dari pihak asing.

Sebagai bagian dari bangunan sejarah yang memiliki pengaruh besar terhadap zamannya, rangkiang perlu diperhatian dan di pertahankan keberadaanya. Untuk zaman sekarang rangkiang tidak lagi mudah untuk ditemukan.Perlu ada suatu revitalisasi terhadap rangkiang baik dari segi bangunan itu sendiri maupun nilai-nilai yang terdapat didalamnya. posisi letak rangkiang telah mengajarkan kita akan kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain. Kejujuran seorang pemimpin akan menyelamatkan kaum yang dipimpinnya. Pemimpin tidak mengorbankan orang yang dipimpinnya untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Dan tidak mengorbankan hak rakyat untuk kepentingan sendiri.

Aulia Rahman*

*Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Bergiat di Forum Surau Tuo

Advertisements